Sesekali Kunti
Pinggiran jurang, jalan mengawang, kadang butuh pegangan, kadang hanya butuh juntrungan, kadang-kadang ingin terjun bebas saja, menantang maut, bersautan dengan penyesalan dalam proses terjun lalu mati mengenaskan jadi kuntilanak, menambah urban legend turun temurun diceritakan hingga 100 tahun kedepan, masuk kedalam mimpi buruk anak-anak, diburu lelaki mabuk yang suka menantang takut, lalu buncahan nikmat datang bersamaan bahak atas ketakutan mereka, tak sesekali nantinya para perempuan sepi tergerak untuk ikut karena terinspirasi atas ketenaran menakutkan padahal hanya perkara patah hati lalu terjun mati menjadi kawan seperjuangan, sesekali disuguhkan kita berdua kemenyan dan permintaan nomor togel, lalu dijadikannya mereka budak nol akal budi, betapa bahagianya, sesekali sepi, sesekali menangis, sesekali usil, sesekali membantu, sesekali menyesal, sesekali rindu, sering kali tawa dalam tangis dan tangis dalam tawa, sesekali menempel pada pria tampan lalu diusir kembali bermodalkan garam dan ayat kursi, sesekali bosan, sesekali ingin lagi terjun dan mati untuk keseratus kalinya, begitu terus hingga kiamat dan lalu neraka menjadi rumah terakhir, itupun kalau ada.

Comments
Post a Comment