Tafakur Kufur
Adiksiku menggugat diksi-diksi kelu.
Tentang tubuh, tentang rasa yang ditangguhkan, tentang perasaan yang sukar digugurkan, tentang rentetan satu kejadian ke kejadian berikutnya dan bayangan selanjutnya.
siapa yang berani berharap saat harapan itu tak benar adanya?
maka hanya ada kemungkinan yang katanya diperbesar, kesempatan yang dapat dicuri tanpa paksaan, lalu tinggal disusun menjadi memori-memori tanpa penyesalan.
asal bencana tak meruntuhkan dunia, cukuplah sudah kita bahagia pada belikat yang sudah terikat pada yang punya dan sayap yang mengepak setengah patah.
ayal tak berani berkhayal.
syukur kita tak terukur, tafakur dibatas tipis kufur.

Comments
Post a Comment