masokis
Sering kali kita memelihara kesepian, luka, dendam, kesedihan secara sadar bukan tanpa alasan. Meraung dengan keluhan namun diam-diam menikmati agony yang ada. Kita manusia yang suka dengan drama dan menolak untuk mengakuinya. Maka saat semuanya indah dan baik-baik saja, lekas kita acak-acak agar ada alasan untuk lagi terluka dan terus terluka. Kita suka menjebak diri dengan ilusi atas nama cinta dan pengorbanan bagi manusia lainnya, padahal seutuhnya adalah sebuah bukti nyata bahwa kita sebagai manusia gemar menyuapi ego kedunguan yang berujung lagi pada luka. Lalu kita bisa bercerita pada banyak telinga yang tidak benar-benar perduli betapa sedihnya serta luka hati ciptaan kita sendiri. Lalu kita bisa menuliskan panjang lebar tentang luka-luka kita atas nama penyembuhan dan karya. Maka bersedihlah wahai manusia, bersedihlah karena kita mahkluk paling rumi namun dungu. Berbagaialah sekaligus karena kita mahkluk yang pantas menyandang predikat "The Lucky Bastard" karena kita punya waktu didunia dan kita jejalkan dengan banyak kemurungan, kesedihan, dendam, luka, kesepian dan seterusnya. Hingga nanti kematian mendekat atau kita menantang maut itu sendiri, lalu kesadaran baru akan muncul dan disanalah optimisme bangkit dari sebuah kepastian dari kematian itu sendiri. Betapa dungunya manusia? Betapa kesia-siaan seonggok mahkluk ini bernama MANUSIA?.

Comments
Post a Comment