Manusia Tinja

Tak usalah kita bicara benar atau salah, tak usalah kita bicara luka duka nestapa.

Tai Asu semua!

Bersemayamlah kita pada nisan tanpa nama.
Menggali liang dengan lumuran dosa.
Meninggikan lamunan basah gelagat dari tegangnya rasa, hingga lupa menundukan ubun-ubun diselasar megah milik sang Mega, pada ketidaktauan serta tak keberdayaan pada apa yang tak ada dapat kita rubah.

Jalan tersendat, labirin mengikat menjebak kuat pikiran yang buat kita menjadi pemadat racun tinja, mahakarya rekayasa manusia.

Kita membenci, kita membenci cinta.
Kita membenci, kita membenci kebohongan.
Kita membenci, kita membenci kekosongan.
Kita membenci, kita membenci memberi tanpa kasih.
Kita membenci, kita membenci pada semua yang tak akan pernah kita miliki. 

Kita diam-diam benci untuk hadir dan hidup menjadi manusia yang kerjanya diperolok nasib tanpa bisa melawan, hanya bisa menghadapi disela-sela hela napas menyayat rindu dengan garam dan cuka pada dinginnya dinding hati yang sendu.

Kenapa tak kita jadi angin, batu, ombak atau sesederhana jadi ikan yang mati keracunan limbah akibat ulah asu manusia? Mati suci tak mengkontaminasi substansi kebahagiaan palsu sekejap dan bikin tersiksa diakhir kalimat.

Menjadi manusia dengan segala akal yang terus menerus tergerus pada norma alus yang mulai luruh dilarung bersamaan resahnya jiwa dan rongrongan luka didada. Terobati dengan tragedi demi tragedi menjadi sedimen tinggi dan diamini dengan janji tanpa tepi.

Comments

Popular Posts