Geger Puisi

Tak ayal puisi menjebakku pada romantika yang salah, rasa berkembang sebelum logika memaki menghambat.

Sudah terlambat, dari bayang-bayang cerita satu bibir ke bibir lainnya, menolak memiliki namun menolak untuk melepaskan.

Puisi bangsat, bikin aku tersesat.
Matrimonial bangsat.
Lelaki bangsat.
Pencarian keparat.

Taklah aku ada bersandar pada manis bibir, pada bait-bait indah terukir, pada hasrat yang sudi mampir, pada waktu-waktu yang hilang, pada desir ambang kehilangan, pada umpatan dalam diri, pada logika yang bunuh diri.

Gara-gara puisi, romantika tlah membunuh norma.
Melankolia jadi bahan gerutu tersusun wagu penuh ragu.
Gara-gara puisi, begitu.

Comments

Popular Posts