Aroma
Bahkan saat hidung tersumbatpun baumu masih tercium.
Alangkah ngerinya sebuah adiksi diatas gelas kaca?
Salah melangkah semuanya terluka parah.
Parau aku ingin berteriak, boleh?
Bolehkah?
Bolehlah, aku harus meracau dan menangis sejadi-jadinya. Izinkan aku bertemu anggur merah malam ini, lalu menelponmu dengan mabuk, menangis sejadinya. Tapi untuk apa?
Aku kehilangan untuk kesekian kalinya, kali ini lebih kacau, aku kehilangan pada yang tak pernah dan tak boleh aku miliki.
Aku sakit jiwa.
Aku ingin gila.
Izinkan aku gila dan aku akan gila untuk setia dan tidak kemana-mana. Sebab jika aku gila, maka tak ada lagi jastifikasi jalang bahkan tidak pada definisi diriku sendiri.
Bantu aku, bantu aku.
Aku tak bisa bantu.
Jelas sekali ini bukan cinta, tapi ini rekayasa, entahlah apa artinya tak berani aku beri makna ataupun nama.
Lagi-lagi bau harummu yang menyiksa jagad rayaku.
Setubuhi aku pada waktu yang tak lagi kita curi, setubuhi aku pada harum wangi yang mematahkan hati.

Comments
Post a Comment