Pintu Belakangmu
Sengaja tak kuketuk pintu depan rumahmu.
Aku menyelinap tanpa suara dari pintu belakangmu.
Kau sedang lengah saat itu.
Pintumu tak kau kunci rapih!.
Aku duduk-duduk di ruang tengahmu.
Menghirup sisan baumu yang khas.
Menyusuri dinding-dinding dingin setiap jengkal rumahmu.
Menatap susunan-susunan figura dengan bingkai minimalis yang tak ada aku di dalamnya.
Berjalan menuju suara dengkurmu, khas dan tidak juga berubah.
Di sana, pada sumber suara itu, tujuan perjalanan singkatku dari pintu belakangmu.
Kutempelkan telingaku tepat pada pintu kamarmu.
Aku tersenyum geli sambil mengenang aku pernah ingin memilikimu, menerimamu hingga bising dengkuranmu.
Pikirku lagi.
Tak ada penyesalan yang bisa kuungkap.
Hanya perjalanan pendek, menyelinap masuk ke masa lalu, dan menerima realita bahwa kita tak dilahirkan untuk bersama pada masa kini.
Lalu,
Setelah puas, aku berlari kecil kembali pada ruang tengahmu.
Sekali lagi menghirup sisa baumu yang khas.
Lalu,
Aku sengaja menuliskan cepat pada sudut dinding ruang tengahmu dengan spidol merah permanen.
"Sengaja aku menyelinap. Baik-baik dan semoga selamat. Jangan lupa kunci pintu belakangmu!."
Sekali lagi kulepas senyumku.
Puas dengan hasil coretan dindingku.
Kupikir, tak ada yang patutku khawatirkan.
Kau sudah bahagia dengan apa yang kau punya.
Maka aku menyelinap keluar, dengan doa yang kutinggal.
9 Februari 2020.
DASP

Comments
Post a Comment