Racauan Payau
Sederet baris.
Hari ini tak ada cerita yang mau kuutarakan
Tak ada intrik hanya tubuh yang telanjang, menangis pada dinginnya malam, mengutuk diri telah berani hidup dalam kesendirian.
Aku alergi atas cinta, aku alergi pada janji, aku alergi pada melankoli, aku alergi pada lelaki, aku alergi pada yang tak bisa kuraih, aku alergi untuk kesekian kalinya harus membenahi diri sendiri.
Apa salahnya jika aku ternyata mengutuk sepi? Apa salahnya aku benci sendiri? Apa salahnya jika aku lemah dan tersungkur?
Apa salahnya, sehari saja aku diam telanjang tergeletak pada ubin basah kamar mandi, menyayat nadi dan berusaha bunuh diri? Apa salahnya aku menyerah? Sehari saja.
Tak ada alasan pasti mengapa ingin mengakhiri hidup lewat sayatan nadi, bisa saja menenggelamkan diri, bisa saja menggantungkan diri, bisa saja menabrakan diri pada kereta pagi.
Tapi harapan selalu ada toh?
Imanku mengetuk, mendobrak masuk, menyeruak suara cinta dari jauh, ibuku, ayahku, saudaraku, para sahabatku, tak ada alasan mereka berteriak.
Tidak hari ini. Kataku.
Spotifyku, memutar lagu yang sama untuk sekian kalinya, Malam Jatuh di Surabaya.
Tak ada relevansinya, hanya secara aneh menenangkan aku dan kesendirianku.
Membantu aku melepaskan makian tanpa wicara, membantu aku memaafkan tanpa perlu permohonan, membantu aku menjadi aku dan segala hal yang tak masuk akal.
Waktunya aku tidur, baju kerjakupun belum kutanggalkan.
Aku hanya ingin telanjang, menangis panjang, kedinginan dan pulang kepada Tuhan.
Tidak hari ini?
Sungguhkah?
Izinkan aku pulang, izinkan aku pulang.
Haruskah aku dobrak pintu surga?
Haruskah aku suap Izrail?
Aku hanya ingin pulang. Begitu saja.
Ingin pulang.
Pulangkan aku?
Kemana?
Tidak hari ini?
Racauan payau, tak ada yang hendak memulangkan aku hari ini.
Play on repeat for hell of time, malam jatuh di Surabaya. Tak di Jogja. Tak juga di Jakarta.
Tak hari ini aku pulang, tak hari ini darah dari nadiku mengalir.

Comments
Post a Comment