Tanya, Tashkent, Jakarta.

Privet, il.

Kamu apa kabar?
Kakimu bagaimana?
Sudah bisa berjalan baik?
Hatimu bagaimana?
Sudah bisa berdetak normal seperti biasanya?
Sudah bisa jatuh cinta lagi?
Sudah bisa membiarkan orang lain menyentuhmu?
Sudah bisa matamu terbuka pada keindahan dunia?
Tanganmu? Apakah tanganmu sudah bisa dipergunakan dengan baik-baik? Sudah dapat kamu membuka telapak tanganmu tanpa geram ataupun dengan ketakutan?
Sudah berapa lama kamu begini?
Sudah berapa lama kamu menangis tanpa air mata?
Sudah berapa lama senyummu kau pasang kaku seperti itu? Matamu tidak menyala akan cahaya.
Berapa banyak bait doa sudah kau panjatkan dalam keheningan dan sentakan tangis tak beraturan?
Kapan terakhir kamu berkaca dan mencintai diri setelahnya?
Kapan terakhir kau mencumbu dirimu mesra?
Kapan terakhir kau bahagia? Tertawa hingga tangis berderai?
Sudah berapa lama kita tak bicara?
Sudah berapa lama kau jatuh cinta pada kemunafikan?
Sudah berapa lama tanganmu gemetar, gigimu gemeretak, urat pada dahimu menegang?
Sudah berapa lama kita seperti ini? Kau seperti itu?
Sudah berapa lama dan harus berapa lama lagi hingga kita berbicara lagi mesra?
Ah banyak pertanyaan, lebih banyak lagi aku ingin mencintaimu lebih lama daripada 22:30 saat kereta terakhir akan beroperasi.

Sebentar saja, palingkan wajahmu, tatap mataku lekat.

Sudah kupastikan, kau kegerahan saat ini, rindu padaku, ingin mencumbuku lewat kata dan rengekkan manja.

Tashkent, begitu jauh, jiwa kita lebih jauh lagi.

Hari ini tanyaku hanya penyambung semesta yang menyampaikan rindumu padaku.

Cinta kita yang menghancurkan sebegitu mengesankan.
Bantu aku menyambut lewat doamu, lewat kekasih gilamu yang palsu.

Jakarta, rindu kedatanganmu.

Comments

Popular Posts