Proses Rekayasaku
Aku biasa berangkat dari keresahan, aku biasanya berangkat dari kesedihan, aku biasanya berangkat dari nafsu, aku biasanya berangkat dari rasa frustasi.
Mencintai, cinta dan tai adalah suplemen utama kerja rekayasaku.
Ruangku sebatas jiwaku, sebatas sikap dinginnya, sebatas orang tua yang marah-marah, sebatas kata-kata acak tak bernuansa, sebatas ketidaktahuanku akan rasa yang sulit terbaca namun tak sulit untuk diuraikan dengan kata-kata.
Paradox.
Hiperbola.
Melankolia.
Korban dari setiap cerita.
Begitu adanya yang selalu aku jaga serta kurawat baik.
Kedengaran masokis.
Objek subjek terpaku pada satu poros, ekspektasi pada kehinaan diri diujung cerita lalu menguatkan diri setelahnya.
Lalu bagaimana jika jiwaku tak lagi bertanya?
Lalu bagaimana jika aku sudah tak lagi ingin menjadi korban?
Lalu bagainana jika aku tak lagi bisa menuliskan hal-hal buruk tentang hatiku, hariku, hidupku, waktuku, tentang kamu ?
Aku masih nyaman bercerita tanpa harus mengindahkan perasaan pembaca.
Ini terapiku, jangan kau ganggu.
Aku tak boleh kau suruh, tak boleh juga jadi meragu pada kemampuanku.
Proses rekayasaku biarkan melekat pada realitaku. Realitaku biarkan menjadi proses rekayasaku.
Jiwaku sebegitu luas, mengembara pada pikiran kotor laki-laki, bersembunyi pada desahan malu-malu dalam gelap dan udara AC yang dingin, terbang pada doa-doa lemah yang aku getarkan pada semesta, tenggelam pada kehinaan diri atas keTuhananku yang sering kali ragu, berjalan pada tepian mimpi dan ketakutan yang sering mengunci diriku sendiri.
Beginilah tulisanku, biarkan jiwaku telanjang, menggelenjang setiap pada kejujuran yang aku tuliskan. Tok hanya ingin puas pada permainan hati, jiwa, rasa pada aksara yang kau baca menjemukan.
Terapi masturbasi aksara yang masih bernafaskan karsa yang akhirnya mungkin sia-sia.
Hanya akan tergeletak dingin pada sudut binari yang tak sedikitpun sesiapa menoleh dan beristirahat pada pojokannya.
Inilah aku, dengan kedangkalanku yang menggemaskanku menggemaskanmu.
Aku mencintai, dicintai, memecut diriku sendiri pada kisah-kisah bodoh, keputusan-keputusan aneh, serta kesedihan-kesedihan tak berakar.
Aku si melankolia yang akan terus bercinta sendiri. Membiarkan jari tengahku masuk pada ruang gelap yang lembab, menyentuh agony yang nagih, terus hinggah pelumas alamiku keluar dan melancarkan dalamku berproses dalam menuju nikmat, bermain pada kepastian singkat, dengan senggalan nafas, gigitan kecil pada bantal, engahan nikmat berusaha mencari nama atau wajah ditengahnya. Dengan satu tujuan, aku ingin lega setelahnya, aku ingin membiarkan segala sariku keluar tanpa perlu banyak pertanyaan hanya kenikmatan singkat setelanya.
Begitulah tulisanku, begitulah proses rekayasaku. Aksaraku padu. Tidak perlu persetujuanmu.
Koridor terbuka dan tertutup rapat.
Seperti itulah aku, terapiku, tulisanku.
Aku tak hendak memuaskan sesiapapun.
Tak hendak menyenangkanmu.
Tak hendak menjadikanmu siapapun pada tulisanku.
Ini rekayasa realitaku.
Masturbasiku!
Jangan kau ganggu!.
Sudah? Iya sudah, sudah jadi tulisan panjang, semoga akan ada lagi yang lebih panjang dari sekedar kedangkalan.
Kau tunggu saja atau tak perlulah kau tunggu. Mahakarya sering kali hadir disaat-saat yang tak ditunggu.
Tapi mungkin aku akan menunggumu.

Comments
Post a Comment