Pengetuk Pintu Neraka
Informasi berlebihan dan dibesar-besarkan, seperti ereksi yang berujung pada ejakulasi dini. Semua berkompetisi menyebarkan berita yang tak layak olah, membeberkan pendirian yang tak jelas akarnya, semua berteriak dan berseteru pada waktu bersamaan dalam sebuah kesenyapan.
Emosi terpatil dan tereduksi bersamaan pada substansi yang tak jelas materialnya.
Manusia pintar dan bodoh saru berseteru memadu bikin keruh.
Menghamba pada eksistensi memuakan, menjilat asin dosa yang terkekalkan, dibagi secara murahan.
Berkelakar pada kebodohan manusia lain, modal unggahan dan sejenak membahagiakan tanpa butuh persetujuan.
Berseteru pada mereka yang tak membela cinta, berseteru pada mereka yang menghamba pada kesederhanaan, berseteru pada dangkalnya "sekedar mengingatkan", berseteru pada rapat dan vulgarnya pakaian, berseteru pada kesetaraan, berseteru pada warna dan kuda poninya, berseteru pada kemunafikan.
Elegi patah hati menjadi industri, pencarian jati diri menjadi imaji yang terkonstruksi, depresi menjadi sexy, tubuh menjadi jajanan sehari-hari, agama menjadi komoditi, doa menjadi bahan perbaikan diri yang dibagi agar bak menjadi resmi, padahal hanya mencari legitimasi diri yang haus akan eksistensi dan atensi.
Tuhan sudah mati. Malaikat hilang kasih.
Semuanya dibagi terlalu cepat dan pekat, membuat iblispun tercekat, suffocated.
Dalil manusia bak trah dari Tuhan yang membenarkan.
Tuhan bermetamorfosis menjadi iblis yang menakutkan.
Dogma membunuh Tuhan secara perlahan.
Dikte-dikte kemudahaan menjadi ekstasi.
Proses segala cepat dan tepat, tak ada lagi kemewahan dalam proses-proses analog yang memakan waktu, usaha dan kepuasan setelahnya.
Tanah beracun, laut teracun, lalu kita ini pecun yang mendagangkan diri pada kontrak mati yang dipercepat dan berharap akan khidmat.
Menantang maut adalah keniscayaan sehari-hari, kalau siap menunda mati maka siapkan kocek yang cukupan dalam untuk sebuah kenikmatan organik tanpa pestisida (katanya).
Akhir kata, kita manusia yang sedang sama-sama mengetuk pintu neraka pada jalur yang berbeda-beda. Selamat bertemu kembali dipadang mahsyar lain hari.

Comments
Post a Comment