Pada Lelaki (yang) Budiman
Halo Lelaki (yang) Budiman,
Tak seutas baris kata pernah kau tuliskan.
Tak seutas tali rasa pernah kau kembangkan.
Tak seutas alasan mengapa kita harus bersama kala cerita diujung sudah jelas terbaca.
Jadi beginilah rasanya perpisahan diam-diam?
Kala lagi kita tak perlu bertegur sapa.
Tak ada keinginan merangkul sesama.
Tak ada dua hari bercumbu mesra.
Tak ada keluh kesah dan desah.
Tak ada rindu yang menyiksa.
Semua hanya temporal saja, tak ada yang istimewa.
Aku bukan lagi manusia yang mendambamu mesra, hanya sebagai saksi mata bisu cerita hidupmu yang ahh tak dapatku mengerti apa.
Adakah kecewa ?
Ah, bagimu ini hanya petualangan semata.
Ah, bagimu ini hanya soal menertawakan luka.
Ah, bagimu ini hanya soal sentuhan semata.
Ah, bagimu aku bukan siapa-siapa.
Mari merayakan perpisahan koneksi yang diam-diam pula kita jaga.
Mari merayakan kesepian atas duka kehilangan yang tak pernah kita miliki.
Mari merayakan cinta yang tak pernah ada.
Mari merayakan dua hari bercinta yang akhirnya adalah karangan belaka.
Aku tak tau hidupmu, kau tak tau hidupku.
Kita berpisah dan mungkin akan bertemu dilain waktu.
Selamat hidup dengan kehidupanmu.
Selamat berpetualang pada lembaran baru, dengan harapan kau tetap menulis kisah pada diary 2015-mu yang terus maju dan kelak menua serta dikubur diliang yang sama, saling pangku dan menuju surga yang bahagia.
Semoga tak sontak kau mengirimkan gambar dirimu ataupun senja, lalu aku terpaksa harus menyukainya.
Bab aku pada petualangan mayamu, sudah selesai.
Mari menjadi hal baik bagi dirinya, hal baik aku untuk diriku dan dengan ini kubuka pintu baru dengan sentakan kaki yang menggema mesra.

Comments
Post a Comment