Kata Acak bak Warna

Kata-kata selalu ada didalam kepala.
Seperti acak tak berirama, hanya butuh dirangkai hingga menjadi makna.

Sering kali tak ada makna.
Entah ini apa.
Hanya butuh dituangkan dan tak peduli dengan hasil akhirnya.

Bila kau baca, maka cobalah menerka arti dibelakangnya.
Bila saja pelukis, maka kata-kata tertuang pada warna dan emosi guratannya.

Anggaplah pelukis, saat ini kugores secara acak warna hitam diseluruh kanvas hingga habis nafas, kubuat goresan keras tak beraturan, kucipratkan dengan rasa amarah lalu kuberi warna merah.
Warna jingga setelahnya agar tak terlalu terlihat saat ini aku sedang marah, resah, gelisah dan ingin dicinta.
Kuning setelahnya, sedikit saja kira-kira kali aku masih punya bahagia.
Kutimpa biru campur putih kutotol secara acak dengan sedikit timbul bak masih ada harapan dibalik warna hitam nan legam dengan kegelapan yang bikin gelagapan.

Sebagai penutup akan kuberi warna ungu, warna ketunggalan lalu kugaris hingga membetuk pola vagina jelek yang besar hinggah membuat jengah siapapun yang mencoba menelaah. Kububuh ala-ala bunga tepat diatasnya sebagai klitoris dengan sedikit warna pink menyala agar lebih tegas dan sedikit ngegas.

Sedikit gila, ah biar saja.
Tidak beraturanpun biar saja.
Tidak dapat dinikmatipun biar saja.
Dicacimakipun biarkan saja.

Ini sebuah mahakarya jiwa yang tak perlu diberi nama, tanpa rekayasa.
Datang dari kata acak yang tak ada makna.

Mari kita sudahi saja, sebelum kata bak warna mengalir lebih aneh dari tangis tragis memekakan telinga serta rengekkan tak terobati dari dalam jiwa.

Hampir habis, jangan senang dahulu setelah ini masih ada umpatan kata dari desah-desah rindu dan nafsu, politik yang asu, orang tua yang gaduh, trotoar yang lusuh, gurat asa pelacur, serta banyak lagi.

Jangan ditunggu.

Comments

Popular Posts