Cinta dan maya

Dunia begitu kompleks hari ini, mungkin dari kemarin, dan hari-hari sebelum kemarin.

Saat kesadaran manusia tidak lagi pada tempatnya yang nyata, tapi terbelah pada data-data usang di dunia maya.

Cinta tak lagi sederhana, mudah saja menebak jingga yang bak pujangga sedang mencari cinta. Ujung-ujungnya sama saja, mencari selimut yang bisa bergoyang.

Mencari cinta bukan lagi terasa mudah biarpun seolah-olah pencariannya saat ini tengah dimudahkan hanya berbasis teknologi. Swipe kiri, swipe kanan, jika sama-sama tertarik maka jalur komunikasi terbuka.
Semua dimulai dengan sama "halo" atau "hai", atau membidik langsung pada kegiatan atau hobby yang telah tertera pada dinding profile.

Teknologi lupa, tatapan mata, senyuman, harum, sentuhan, begitu masih penting.
Sudah seribu swipe dan beratus kecocokan pun tidak membawa raga segera jumpa.

Sudahlah, aku malas berbasa-basi, saat pembicaraan kadung banyak namun kandas setelah jumpa.

Patah hatinya itu seperti 2x.

Pertama, hati patah karena mendadak pertemuan menjadi ujung hubungan yang belum juga mulai. Lebih sial lagi kau temui belakangan bahwa si lelaki tidak benar-benar sendiri.
Kedua, hati patah karena diri merasa tidak sesuai ekspektasinya.

Suram sudah.

Lebih sederhana, jaman dahulu dengan keluguan dan tebak-tebakan manis atas gesekan energi yang berkembang. Perlahan tapi pasti, pasti mulainya, pasti ujungnya.

Comments

Popular Posts