Wisata Mcdonald's
Alih-alih beribadah, malah lari ke McD.
Jelas tidak sehat, bukan pilihan yang tepat.
Alih-alih bijak dan sadar tumpukan kotor yang buat hari-hari makin buruk. Malah menenggelamkan diri dalam french fries dan nugget.
Terlalu takut bunuh diri, karena takut jadi hantu yang mengulang-ulang rasa sakit dalam kematian atas kehendaknya.
Jadi mungkin tanpa sadar, merusak diri lewat makanan, menjadi cara bunuh diri yang laten.
Di salah satu video TED talk, Margaret Robinson Rutherford Ph.D., seorang clinical psychologist bilang bahwa pikiran ingin mati itu ternyata normal. Ada istilah hidden depression, yang mana terjadi pada salah satu pasiennya, dari test standard yang dilakukan hasilnya mild, adalah panic disorder dan mild depression, namun suatu hari memutuskan untuk mencoba bunuh diri dengan meminum Vodka dan banyak obat. Menurutnya hasil yang didapat saat test adalah apa yang hanya Natalie ingin perlihatkan sehingga luput dalam diagnosanya.
Jadi mungkin perasaan ingin mati ini normal. Yang tidak normal mungkin caraku untuk menghadapinya dan lari darinya.
Saat aku pulang dari menenggelamkan diri dengan french fries dan nugget, dunia masih berputar seperti biasa. Suamiku masih baik seperti biasanya. Keluargaku masih membuatku ingin muntah seperti biasanya. Pemerintah masih laknat seperti biasanya. Bumi akan semakin panas seperti biasanya. Ekonomi akan semakin susah dan harus terbiasa. Amarahku meletup-letup dari dalam. Sedihku masih merembes seperti biasanya. Dukaku dan harapanku masih sama hampanya.
Mungkin aku marah, karena aku tidak bisa hamil dengan becus, 2x keguguran. Mungkin aku marah karena aku gendut. Mungkin aku marah karena pagiku tanpa tujuan selain hidup. Mungkin aku marah karena berduka. Marah karena sedih.
Sialnya aku terlalu tua untuk menjadi gila. Untuk menjadikan ketidak stabilanku sebuah alasan. Menjadi anti kapitalispun terlalu hipokrit.
Mungkin masalahnya hanya kurang bersyukur. Suami super baik, walau belakangan bicara dengannya seperti nonton film asing eropa yang textnya super abal jadi bingung dengan maknanya. Bukan salahnya, justru rasanya aku ingin sudahan saja karena harusnya dia bisa menjalani hidup dengan orang yang sama cepat dengan dia, yang mungkin bisa maju dengannya.
Belakangan aku sedang porak poranda, dan bukan tanggung jawabnya untuk memperbaiki diriku. Tendensi self sabotage ku memang super tinggi 👏.
Sialnya, PR-ku sepertinya cukup banyak, dan cukup banyak biaya, waktu yang panjang, kesabaran tingkat dewa.
Tidak, aku sedang tidak menggunakan ketidak stabilanku untuk membolehkan aku berkelakuan seenaknya. Setidaknya, ternyata di hidup yang gila ini, tidak menjadi gila adalah hal yang cukup gila.
Setidaknya, parkiran McDonald's, french fries, nugget, dan rasa amarah, dorongan ingin mati yang tidak jelas ini membantu aku ngedumel yang agak produktif. Yaitu, menulis.

Comments
Post a Comment