Tidak Ada Keluarga yang Sempurna
Kata Rara Sekar, dalam Hara, Tidak Ada Keluarga yang Sempurna. Tahun ini Spotify Wrapped 2024 ku jadi saksi betapa lagi ini jadi theme song of the year. Sangat beresonansi denganku, dengan realitasku.
Di realitasku, aku kira tidak butuh siapapun, cukup saudaraku. Bagaimana tidak? Hidup sebagai anak ke 5 dari 6 bersaudara, 5 perempuan, 1 laki-laki. Dengan sumber luka dan trauma yang sama. Susah senang tumbuh bersama. Bahkan minum alkohol pertamaku, pergi ke club pertamaku, hingga edukasi seksual kudapatkan dari kakak-kakakku. Rindu bukan main jika seminggu saja tidak jumpa.
Aku kira kita saling mengerti. Dapat membaca tanpa harus bicara. Ternyata ini bukan realitas, ini ekspektasiku.Tapi namanya juga ekspektasi memang sudah jadi takdirnya untuk patah.
Tapi gebrakan demi gebrakan, rasanya bikin aku mau resign jadi anggota keluarga, dan memilih diriku sendiri. Tapi kamus "memilih diriku sendiri" tidak pernah terpupuk dan bukan opsi. Karena aku kira realitasku nyata, cinta dan kasih terlalu besar untuk patah bahkan saling merobek luka. Main adu siapa yang paling tersakiti, adu siapa yang paling berjasa, siapa paling, paling, paling tai kucing.
Tapi aku masih di sini, duduk menangis, patah hati bukan karena laki-laki tapi relitasku, rumah harapanku, kekuatanku yang ambruk.
Aku sudah biasa bangun dengan drama, rumah hilang lalu dibangun lagi. Tapi dulu aku masih menjadi anak, aku yakin setengah mati dengan kekuatan orang tuaku. Tapi kali ini berbeda isinya banyak bumbu pahit, iri, dendam, amarah, kecongkakan, saling merendahkan. Kami sekarang hanya kumpulan manusia (individu) yang tidak sengaja lahir dari rahim yang sama.
Di realitasku, saudaraku tidak begitu. Entah sejak kapan dan siapa yang diam-diam menanam benih-benih virus yang menulari akar dan menjadikannya busuk.
Tidak sekali dua kali, teman-temanku memuji persaudaraanku yang katanya kompak, kuat, dan seru. Sekarang sepertinya itu hanya sebutir debu.
Bohong, saudarapun isinya tetap manusia, yang seringnya jelmaan binatang saja.
Aku tau, suatu saat nanti mungkin kumpulan manusia ini bisa kembali duduk bersama, sekali lagi menjadi saudara, tapi aku harap bukan karena kami terpaksa harus memandang liang yang sama.
Sepertinya cinta kasih sedang liburan dan belum mood kembali lagi.
Aku tau, Tuhan tau sebenar-benarnya isi hatiku, dan jeritanku. Kepadanya aku serahkan, aku titipkan, yang jadi kehendaknya, jadilah.

Comments
Post a Comment