Kerikil di Tengah Badai
Tuhan kasih kita tidak berkekurangan satupun. Diberikannya pangan yang cukup, rumah yang megah. Tapi tidak beri kita diam. Krikil-krikil tajam sulit untuk dihindari. Tidak hanya melukai kaki, tapi juga hati. Sayatannya kecil, halus, namun dalam. Rasanya tidak boleh diam berpuas diri. Tidak boleh merasa cukup dan jumawa. Tiap luka katanya membawa pelajaran. Mampukah kita belajar? Maukah kita belajar?
Di hari-hari hujan begini, rasanya enak menangis sesenggukan. Mengutuk, tapi tak berani aku bertanya kepada Tuhan, kenapa kami? Apa yang mau Kau sampaikan?
Aku bisa menutup mata rapat, membuang muka. Tapi kukira kontrak darah tidak bisa dibuang begitu saja. Aku tidak akan lari tapi badai datang lebih dulu sebelum bencana yang lebih besar datang, melululantakan kasih, menggerus hati.
Bisakah kita keluar dari semua ini?
Keluar, berdamai, bertumbuh, menguat.

Comments
Post a Comment