Cerita di Balik "Anxiety Hingga Ingin Bunuh Diri: Pekerja Teknologi Terhimpit Pandemi"

Suatu hari kami pernah berbincang soal mengapa Bimo memilih menjadi jurnalis. Ia bilang untuk menyuarakan yang tak bersuara, "to give voice to the voiceless". Nyatanya ia adalah jurnalis media online untuk health dan lifestyle. Liputan di hotel, resto, acara ini dan itu.

Sebulan dekat dengannya dan mulai mengerti cara kerjanya. Aku sedikit kaget dan ilfil bukan main.



Mulai resah, sesekali aku sedikit menyindir bahkan mendebat cara kerjanya. Skeptis bukan main.

Mana yang katanya menyuarakan yang tak bersuara dengan kuota 20 artikel sehari? Kebanyak isinya adalah melansir media online internasional. Ujungnya adalah menjadi budak SEO, Adsense, traffic atau apapun itu namanya. Seolah-olah jurnalisme media online adalah pekerjaan melansir saja dan salah-salah tak jarang kutemui berita yang dilansir melenceng jauh dari aslinya. Intinya jurnalisme media online jauh dari bayangan ideal yang aku punya. Dan akhirnya mengerti mengapa berita online dengan kecepatan informasinya sering kali hanya menyajikan judul bombastis dengan isi sekenanya, asal banyak di-click dan share.

Tapi Bimo berbeda, dengan kuota 20 artikel sehari, ia masih berusaha melakukannya dengan dedikasi jurnalistik, memberikan perspektif atau angle yang menarik dan bermanfaat, ia tidak hanya melansir, ia juga melakukan kurasi untuk berita yang layak diterbitkan. Tentu ini penilaian yang tak berimbang mengingat aku adalah istrinya. Tapi hal ini ia buktikan dengan prestasi dan perjalanan kariernya yang membuat aku terkesima 3 tahun terakhir.

Bimo mengakui, jurnalisme media online adalah sekedar bisnis, ujung-ujungan soal memperkaya yang punya modal. Artinya ini bersebrangan dengan idealismenya. Tapi lagi-lagi Bimo mengakui bahwa ia masih butuh uang. Tidak banyak pilihan selain hidup di dalam sistem yang ada, untuk membangun jaring pengaman yang cukup untuk dirinya, ibunya, adiknya, dan belakangan mimpi kami berdua. Ironis tapi ini realita dan sangat bisa dimengerti.

Untuk mencapai idealismenya Bimo harus menggunakan cara lain. Seperti aktif di organisasi Serikat Pekerja Media dan Pekerja Kreatif, serta organisasi lainnya yang sejurus dengan concernnya. Mengikuti lomba-lomba jurnalistik, maupun fellowship jurnalisme yang mengangkat issue sejalan dengan concernya.


Ia tetap menjadikan jurnalisme alat bantu dalam menyuarakan yang tak bersuara. Walau mungkin belum maksimal (bagi dirinya), namun sebagai pendampingnya aku tau kesungguhannya dan aku yakin dengan usahanya yang luar biasa.

Lain hari Bimo membuat kaos dengan wording "The Future is Intersectional". Berdebat lagi kami soal ini dan akhirnya dibuatnya aku mengerti serta dengan lapang dada mendukungnya. Ia tak main-main dalam menjalani idealismenya. Awalnya kupikir ini hanya kegiatan SJW dan agar telihat edgy saja. Namun bukan sekedar kaos ternyata. Ia sedang berjalan meniti semua itu. Perjuangannya masih panjang dan mungkin bukan untuk hari ini, tapi akan dirasakan untuk generasi kedepannya.


Selamat untuk Bimo atas prestasi menakjubkannya, memenangkan penghargaan jurnalistik dengan judul "Anxiety Hingga Ingin Bunuh Diri: Pekerja Teknologi Terhimpit Pandemi". 

Kamu keren banget! Aku bangga sama kamu! Walau aku tidak berprestasi, tapi sebuah prestasi menjadi mendampingmu! Wkwk~ love you always. You know i will always support you and always beside you whenever you need my sotoy opinion. Sobat brainstorming seumur hidupmu.

Tanpa mengurangi kehebatan Bimo, andil Tuhan selalu ada dalam kelancaran hidupnya, doa ibunya, doa ibuku, doa banyak orang yang menyayanginya.
We are here for you!

Comments

Popular Posts