Ini Ceritaku di Coffee War Kemang
Gue sedih sih tau Coffee War akan tutup dari kemang, tapi juga excited akan pindah kemana dan akan seperti apa.
Banyak memori yang tertinggal di Coffee War. Tapi toh kehidupan harus berjalan, mungkin ini jalan baiknya untuk @coffeewar agar terus hidup.
Dengar kabar inipun membuat memori gue berputar ulang seperti film.
Pertama kali diajak @jeke.andhika jaman kuliah mungkin 2010 atau 2011. Waktu itu gue inget, datangnya siang menuju sore, kami datang ramean menemani Bang Jaka berlayar. Kalau gak salah ingat, udara waktu itu agak panas tapi angin masih semilir. Hari itu kami membantu Mas-nya bukain plastik dari kursi kayu yang baru sambil ngobrol-ngobrol. Kebetulan kursi-kursi baru baru datang untuk yang di area depan.
Awalnya Coffee War masih mungil di tempat yang pertama dan gak ada susu buat kopinya, dan masa itu kopi kekinian belum trend. Jadi walau ke Coffee War gue biasanya nge-beer atau teh lemon jahe, atau susu jahe.
Dulu coffee shop yang ramah di kemang belum banyak, jadi Coffee War satu-satunya cafe dengan gaya egaliter bisa dibilang. Out from the fanciness of Kemang, ada coffee shop yang ngebuat setiap orang diterima.
Ada Mbak Sri yang melayani dari hari petama gue kesana. Mbak Sri yang akan nanya kabar, bercanda, juga andalannya "Mbak kapan selesai skripsinya?" Atau "Mbak mana pacarnya? Itu masnya udah gonta-ganti Mbak masih sendiri" atau "Mbak si Masnya kemarin udah beda lagi ceweknya". Si Mbak Sri yang selalu ditemani anak perempuannya yang memiliki rambut kriwil menggemaaskan. Dari balita sampai akhirnya sudah bisa berangkat ngaji sendiri dengan tas sponsor dari Beer Bintang.
Lalu ada Satria, yang selalu ramah, dan ngoceh terus, si yang cepat tanggap tapi selalu lupa nama gue. But he is the sweetest.
Intinya pun datang sendirian I won't feel alone there, karena seperti nongkrong di rumah temen. Semua orang bisa saling senyum, bisa saling bercanda, bisa saling pamit.
Oh iya, kalo gue kalo lagi deket sama cowok ataupun punya pacar pastilah gue ajak nongkrong di sini. Sekedar mau kasih tau di mana biasa gue berlabuh.
Kalo gak salah tahun 2016, gue ke Coffee War lagi sama mantan gue (dulu masih pacaran). Masih di tempat pertama, tapi Coffee War sudah ekspansi melebarkan tempatnya hingga akhirnya tahun 2018 Coffee War pindah ke tempat keduanya di Kemang.
Coffee War selalu dekat dengan Musik, salah satu kegiatan rutinya sebelum Covid menyerang adalah live music di hari Selasa. Such an odd day for a live music, toh tapi ternyata menghibur. Lebih dari itu, banyak musisi yang pernah main di Coffee War, dan penyesalan gue adalah banyak melewatinya.
Ada masanya, gue jarang ke Coffee War, tapi setidaknya dalam setahun pastilah ada 1-4x ke sana. Kadang cuma kangen duduk di sana, ngeliatin orang, nulis, baca buku atau sekedar melepas penat sehabis pulang kerja dengan sebotol dua botol beer. Pokoknya pastilah ada rasa kangen kalo terlalu lama gak ke Coffee War.
Mungkin yang jadi recordnya adalah 2018-2019 saat gue memutuskan untuk membuka diri dan berpetualang. Gue menjadikan Coffee War meeting point untuk ketemu orang dari aplikasi. Alasannya simple, karena gue tau akan aman di sana. At least kalo gue ilang, someone knew me there and knew the guy i met with.
Ganti tahun ke 2020, hal yang paling manis mungkin adalah, gue pertama kali ketemuan sama Bimo di sana. Setelah banyak pria yang gue temuin dalam seminggu bisa gonta-ganti. Disela-sela ini, ada Jaka yang jadi teman pulang dan teman Kopi Perang dari hari pertama.
Jadi Coffee War selalu ada, jadi saksi pendewasaan gue dari jaman kuliah, jaman gak kelar-kelar skripsi, jaman pacaran lalu patah hati, jaman akhirnya kerja walau belum lulus, jaman akhirnya lulus juga, jaman pencarian cinta. Dari ketemu yang single sampe ternyata beristri, dan akhirnya hang out dengan sang istri di sana.
But up above that, Coffee War jadi saksi persahabatan gue dan Jaka, we through a lot thick and thin there. Perjalanan percintaan masing-masing, perbisnisan, perjapraan, semua wrapped in Coffee War Kemang 1 dan 2.
Seperti halnya hidup, semua ada waktunya. Ada waktunya kita harus pindah. Ada waktunya kita harus berpisah. Ada waktunya akan bertemu kembali dengan suasana yang berbeda.
Semua ada alasan, dan alasannya mungkin karena hidup adalah perjalanan, setiap perjalanan yang ada menjunjukan kalau kita masih bertahan dan berjuang.
See you next time Coffee War yang bukan di Kemang.

Comments
Post a Comment