7 Bulan Berpulang

Ma, bagaimana rasanya hidup tanpa Papa?
Aku rasa pasti hancur kan, Ma?

Disela-sela hari, masih sering kulihat Mama menitikan air mata, kadang sesenggukan, kadang mata kosong dengan kerinduan.

Dalam duka.
Kita semua tau, kepergian Papa adalah yang terbaik. Dalam diri kita selalu mengulang, "ini yang terbaik, Papa akan lebih menyedihkan jika hidup terlalu lama dan sakit-sakitan."
Papa paling benci merepotkan orang lain, apa lagi tidak berdaya dan membebani anak-anaknya.


Ma, belum genap setahun setelah kepergian Papa. Hatiku juga sering kali rindu. Bagaimana denganmu, Ma? Tidak berani aku menebaknya. Sungguh.

Memang, Papa sebegitu menyebalkan, ya Ma?

Semasa hidup Mama mendampingi Papa, tidak sedikit cerita pahit. Jarang dengar cerita manis darimu soal Papa.

Cerita manis, seringkali datangnya dari Papa. Satu atau dua cerita manis yang pernah kudengar dari mulut Papa, "Mamamu dulu itu kaya nyamuk! Badannya mungil tapi bokongnya besar" atau cerita bagaimana Papa yang bisa menyembuhkan Mama saat kesurupan.

Sedari kecil, aku sudah tau, sering kali Mama kecewa, menangis, marah. Aku ada di sana melihat kaca yang pecah, pintu yang bolong, telepon yang hancur, mendengar sumpah serapah, mendengar teriakan.

Mama menjadi tonggak kuat bagi Papa.
Aku yakin, sering kali pasti ingin menyerah, tapi kami (anakmu) selalu ada dalam benakmu. Maka lebih sering Mama urung lari dari tragedi.

Saat usia remajaku, ada kalanya ku hapus harapan dan keinginan, bahwa suatu hari Ayahku akan hadir benar dalam hidupku. Karena bagiku dulu ia adalah penjahat yang seringnya buatmu menangis Ma. Kadang torehan luka dihatimu juga melukaiku.

Tapi tau Ma? Papa pulang, dan berusaha menebus semuanya. Sejak kelahiran Cucu ke duanya. Ia berubah. Mungkin karena semakin menua, mungkin karena cinta baru yang ada. Cucuk-cucuknya.

Dengan waktu yang sedikit ia menebusnya. Hingga saat menghembuskan nafas terakhirnya, aku hanya bisa mengingat kenangan manis yang ada.

Perbincangan sore hari, kelakarnya yang nyeleneh, berlibur dengannya, membeli mainan untuk cucuk-cucuknya, ritual sarapan sekeluarga, debat soal politik, dan banyak hal manis lainnya.

Setelah kepergian Papa, banyak orang memujinya. Mengaku bahwa Papa adalah mentornya. Bahkan, kita baru menyadari bahwa Papa adalah salah satu legend dalam sejarah Forwarder dan Heavy Lift Indonesia.

Benar-benar si Papa ini, penuh kejutan.
Pulang subuh, berangkat Pagi. Hingga kita juluki Bang Toyib suatu kali.

Ma, tapi sama halnya, aku dan Papa, justru berterima kasih padamu. Papa mungkin tidak akan seperti itu jika bukan denganmu. Bahwa sesakit apapun Mama bertahan.

Welas kasihmu sungguh menyembuhkan dan menguatkan bagai malaikat baginya.
Seperti yang Papa katakan, you are his angel.

Jadi Ma, aku tidak sedang memintamu kuat, karena manusia pasti ada batasnya. Aku juga tidak sedang memintamu untuk bersabar, karena penompang kesabaranmu mungkin nyaris penuh.

Aku hanya sedang memintamu untuk sekali lagi hidup. Sekali lagi semangat. Sekali lagi bangun mimpimu yang lama terkubur. Sekali lagi kejar apa yang tertunda.

Ini waktunya Mama keluar dari Goa Kekhawatiran. Musuh dan cinta terbaikmu sudah 5 bulan lagi akan genap setahun pergi. Maka, langkahkan kakimu untuk menikmati hidup dengan egois.

Bahwa Mama pantas meraih bahagia dan Mama pantas jadi manusia yang berbahagia.

Terima kasih Ma atas kekuatanmu, dan cintamu. Selamanya kami dan Papa bersyukur memilikimu.





Comments

Popular Posts