Menanti Suami Pulang Kerja
Aku ingat menyeruput kopi latte panas di Korea Selatan. April tahun 2018, kala itu bunga cherry sedang berkembang sepanjang sudut kota Seoul. Musim Semi, angin berhembus dingin yang uniknya matahari sedang terik-teriknya.
Makan cumi bakar yang empuk di pinggir laut salah satu sudut pantai Jeju-do. Melumat habis odeng dengan kuah panas dan kecap asin dicampur potongan cabe. Udara pantai yang justru lebih dingin dengan hembusan angin cukup kencang, dibandingkan ibu kota.
Entah di Seoul ataupun di Jeju-do, kala itu aku tidak pernah kenal namanya rindu bernafas bebas, hari-hari jauh tanpa masker. Tahun 2020 masih menjadi masa depan kala itu. Pasca 2017-ku yang meremukan harap. Sebuah hiburan mewah untuk menemukan damai dan kuasa Tuhan.
Hari ini, Selasa, 27 Oktober 2020 di salah satu Cafe Jakarta Selatan, Indonesia. Menanti jam 7 malam untuk akhirnya dapat menjemput suami pulang kerja.
Aku duduk menyeruput kopi latte panas tanpa gula, udara dingin namun lembab karena hujan. Sendirian menikmati basahnya Jakarta.
Sepanjang mata memandang, pendar aura waspada dari semua pengunjung yang ada. Beberapa menggunakan Masker, lebih banyak yang menyimpan rapih maskernya dan beberapa menggeletakannya di meja. Seolah-olah ini adalah hari yang sama seperti 2018 lalu. Bebas bagi manusia untuk bersenda gurau tanpa jarak dan curiga.
Jakarta-Seoul, dan seluruh kota lainnya di dunia menghadapi hal yang sama. Tahun 2020 ini, menjadi momentum diujinya ragat hidup manusia. Normal baru menjadi seragam baru. Sekali lagi umat manusia diuji oleh ketidakpastian.
Berita simpang siur antara pandemi, politik, gossip, dan sebagian besar kebenaran yang terpecah belah, lebih banyak lagi jari tanpa otak yang main menilai tindak tanduk apapun yang ada. Aliran A hingga Z. Aku menolak untuk percaya ketidakpastian ini akan membuat rasa kopiku hambar. Kopi tetap sama apapun mahzabnya. Pahit.
Otak dan hati manusia yang berubah-ubah, cuaca yang semakin tak pasti, alam semakin berpartisipasi protes atas eksploitasi.
Kekuasaan dan tamaknya manusia masih sama, hanya bentuknya yang berbeda.
Aku jadi rindu kesederhanaan remuknya harap atas cinta, bukan pemerintah. Hari ini, meraih hiburan mewah untuk melipur lara bukan hal yang mudah. Entah kapan lagi kembali menginjakan kaki di Seoul ataupun Jeju-do saat musim semi, menyesap kopi latte panas, makan odeng kuah panas dan jauh memandang tentang masa depan.
Aku harus puas dengan kopi latte panas di Jakarta, dengan pemerintahan yang ada, berdampingan dengan corona, menanti jam 7 untuk menjemput suami yang pulang kerja, dan pikiran yang kemana-mana.

Comments
Post a Comment