Akhirnya Pria Itu Bernama Bimo


Kami berdua bertemu pertama kali di @coffeewar, Kemang setelah teleponan setiap malam dan rutin chat. 

Jika ada pertanyaan kami berdua kenal dimana, jawabannya pada aplikasi sampah bernama Whisper. Bagi yang tau, boleh disimpan baik-baik sesampah apa aplikasi tersebut, bagi yang tidak tau lebih baik jangan pernah mengotori HP anda dengan aplikasi yang satu ini.

Bila bicara soal pertemuan saya dan Bimo, rasanya kurang pas jika tidak menelaah cerita dibelakangnya. Sebuah perjalanan diri, sebelum akhirnya bertemu dengan yang satu ini.

Sejujurnya mengenal aplikasi ini sudah sejak 2015. Kenalnya pun karena tidak sengaja dari ads video Buzzfeed. Aplikasi ini menyediakan tempat bagi orang-orang untuk menulis decara anonim dengan background variatif yang bisa menunjang tulisan kita. Singkat cerita, saya download aplikasi ini simply karena saya sering kali punya opini, ataupun sesimple punya unpopular thoughts about everything. Bonusnya, secara anomin pengguna lain di whisper bisa DM ataupun reply tulisan kita. Lalu bisa lanjut chat dengan direct message. 2016 saya hapus aplikasi ini karena saya akhirnya punya pacar.

Tahun 2017-2018, saya putus, patah hati, sendiri lagi. Hingga akhirnya dengan proses yang cukup panjang, pada tahun 2019 saya memutuskan untuk memulai perjalanan 'membuka diri'.

Akhirnya saya mengizinkan diri saya untuk berpetualang setelah patah hati dari cerita percintaan saya yang sebelumnya. Karena pergaulan saya yang terbatas, agaknya sulit untuk bertemu orang baru. Jika tidak dikenalkan oleh kawan atau saudara, rasanya agak sulit. Jadi, saya memutuskan untuk download aplikasi yang satu ini.

2019 has been a hell of a lot dramatic yet exciting. Saya bertemu banyak laki-laki, dari yang jelas sampai tidak jelas. They all come and go. Tapi saya tidak benar-benar ambil pusing, karena sebelum perjalanan dimulai, saya sudah mengingatkan diri bahwa saya hanya mau bermain dan belajar. Sebelumnya pun saya sudah pada tahap utuh secara personal, tinggal melengkapkan diri dengan proses belajar yang tidak ada habisnya. Kuncinya adalah, perasaan saya adalah perasaan saya, kebahagiaan adalah tanggung jawab saya. Jadi saat orang datang dan pergi, saya tidak akan lagi sepenuhnya jatuh. Karena saya masih memiliki diri saya sendiri dan orang-orang yang ada dibelakang saya, dan Tuhan.

Saya tidak bisa cerita secara detail tiap-tiap pertemuan saya dengan banyak laki-laki. But none of it i put regret on this journey. I still pretty whole of my self until today.
Detil soal chapter hidup saya yang ini, tlah menjadi fragmen catatan kecil hingga jadi dongeng belaka.


Balik lagi, soal saya dan Bimo.
Saya ingat kenapa akhirnya kami berdua bisa chat. I was the one who chat him first, he was posted soal pickup lines mie goreng yang cheesy setengah mati.

Chat kami sangat ringan, perkara mie goreng, latar pekerjaan, hingga sampai sharing blog masing-masing. Akhirnya Bimo, malam itu juga izin untuk menelpon saja, dengan alasan lelah menulis. Maklum, Bimo adalah wartawan lifestyle disebuah kanal berita daring.

Ternyata obrolan kami nyambung. Kocaknya pembicaraan kami sampai pada topik feminisme. Bimo secara tidak langsung menantang opini saya dan mengajak saya untuk berpikir kritis kembali. Padahal otak saya telah lama tertidur pulas.

Yang menyenangkan dari obrolan pertama kami adalah, dia tidak sekalipun menjatuhkan pendapat saya. Bimo mendengar dengan baik setiap pemikiran saya. Sebuah kunci untuk saya membuka pintu yang lama terkunci adalah, dengan tidak berlaku agresif ataupin difensif namun komunikatif dan persuasif terhadap saya.

Dari malam itu hingga hari ini, kami berdua belum kehabisan topik. Keculi mood kami atau kesibukan berkata lain.

Pada pertemuan kami ketiga kalinya. Karena pengalaman yang tidak sedikit dengan pria Whisper. Saya dengan sadar melontarkan pertanyaan ke Bimo. Niat kedekatan kita mau ke arah mana? Apakah Bimo hanya mau mendekat dan jadi FWB (Friend With Benefit) seperti anak whisper lainnya? Atau mau apa?. Ini saya tanyakan, agar saya tau seberapa banyak investasi yang harus saya keluarkan dalam interaksi kita. Tidak bohong, saya saat itu juga mulai lelah. Bagaimana kenal banyak orang membangun koneksi, lalu dighosting. Belum lagi usia saya akan bertambah menjadi 29 tahun dalam waktu 1 bulan saat itu. Saya katakan padanya, jika hanya mau main-main, ayok saja. Saya share juga list poin-poin lelaki idaman saya sebagai bahan pertimbangannya. List itu selalu saya bawa di dompet. Saat itu saya tidak berpikir ia akan tinggal. Malah Bimo tidak mundur. Secara konsisten ia mengajak saya bertemu. Dari menjemput, nonton, makan, hingga mulai bertemu dengan keluarga saya satu persatu kerap kali ia mengantar pulang ke rumah.

Bimo mulai rutin setiap weekend datang, duduk di teras. Berusaha nyaman dan bicara dengan keluarga saya. Dan yang paling jempol, ia berusaha mengajak bicara Papa. Lebih kaget lagi, saat itu Papa juga tidak menutup diri. Feedback dari keluargapun cukup baik. Dan bagi saya, kunci kedua adalah, keluarga. If my family okay i tend to let myself try.

Bukan saya jika tidak ada ragu. Tidak sedikit saya berantem dan demo mogok dari interaksi karena obrolan soal privilege dan segala perbedaan pemikiran yang ada. Karena Bimo seorang SJW tulen. Hingga saya mempertanyakan soal idealisme dia dengan apa yang dia jalani dalam hidup. Maju dan mundur sudah pasti ada, karena perbedaan pemikiran dan kacamata sering kali bikin saya ilfil. Namun, berkat kesabaran dan keterbukaan diri Bimo, pelan-pelan saya belajar mengerti dan menerima.

Tidak tanpa tragedipun perjalanan saya dan Bimo. Masuk Maret, kesehatan Papa menurun sampai akhirnya masuk Rumah Sakit. Bersamaan itu, saya menemukan kebohongan yang melukai dasar prinsip saya. Saat itu saya siap melepaskan Bimo. Lagi-lagi saya tersadar, manusia yah gudangnya membuat kesalahan. Toh kesalahan ini terjadi sebelum chapter perkenalan kami. Dikatakan kesalahanpun rasanya tidak adil, karena Bimo juga manusia yang sedang berproses. Akhirnya, saya membuka diri dan mempersilahkan Bimo untuk lebih mengenal saya dan sebaliknya.

Lalu setelah semingguan Papa di RS akhirnya beliau keluar. Lalu Corona menyerang dan WFH life dimulai. Selama WFH dalam seminggu Bimo bisa datang ke rumah beberapa kali, ikut acara ulang tahun dan sebagainya. WFH karena corona was such a blessed for me karena saya dan keluarga dapat waktu yang berkualitas untuk ngeriung sebelum Papa gak ada. And yes, Bimo was there too.

Hubungan kami bergulir dan semakin intens. Bersamaan dengan kesehatan Papa yang naik turun seiring memantapkan hati untuk izin menjalani hubungan lebih serius sebelum ada apa-apa dengan Papa.
Hingga suatu hari ditengah nongkrong sore saya dan keluarga. Saya memberanikan diri bertanya pendapat dan meminta izin Mama dan Papa bahwa saya mau menjalani sebuah hubungan dengan Bimo. Reaksi Papa saat itu cuma satu, "kamu yakin? Anak kaya gitu gak nanti bikin kamu bosan?". Dang! Papa emang paling tau anaknya. Disitu keraguan saya naik turun sambil berdoa minta petunjuk sama Pencipta dan alam semesta.

Saya menyampaikan keraguan saya dan perasaan saya kepada Bimo. Namun, ia pantang menyerah biar bolak balik saya minta mundur. Satu hal yang bikin saya akhirnya sadar 'dia orangnya' adalah saat Bimo menenangkan segala ragu saya dengan meyakinkan saya bahwa setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.

Bulan Juni, akhirnya Papa masuk RS lagi dan seminggu kemudian tengah malam saya dan Bimo diminta datang oleh Kakak saya atas permintaan Papa. Tapi kami berdua tidak datang karena saat itu tengah malam dan belum tentu boleh masuk karena di ICU. Ditambah tengah Corona, RS memberlakukan protokol yang cukup ketat. Dengan harapan besok saya akan datang sekalian dengan Bimo meminta izin di hadapan Papa.

Tapi Tuhan menuntun ke arah lain, keesokan harinya Papa dikabarkan koma. Dari kantor saya mengemudi secepat mungkin ke RS. ICU memperbolehkan saya dan keluarga masuk bergantian. Saat itu Papa sudah menggunakan ventilator dalam keadaan tidak sadarkan diri. Giliran kami berdua masuk. Kami berdua menghampiri ranjang Papa. Perasaan saya campur aduk. Seharusnya hari itu saya mendengar Papa dan menatap wajah Papa memberikan restu. Bimo, mendekat kekuping Papa, minta izin dengan berbisik di kuping kananya. Tidak sadar, Papa hanya terbujur dengan alat bantu nafas. Hingga saat ini saya berdoa Papa dengar dan benar-benar memberi restu bagi kami berdua.

Semua berjalan dengan cepat. Malam itu saya dan Bimo juga yang lainnya, stand by menati hasil dari dokter, apakah ada chance bagi Papa untuk sadarkan diri atau tidak. Namun hingga jam 11 malam, belum juga ada hasil. Jadi kami memutuskan untuk pulang. Tidak selang satu setengah jam setelah kami pulang dan yasinan. Ketika kami semua di rumah hendak tidur. RS menelpon kami. Saat itu saya sudah tau apa yang terjadi saat telepon berdering. Saya dan keluarga bergegas ke RS. Dini hari Papa pergi meninggalkan kita semua. Dengan kaos kaki kuning bergambar kaktus dan baju Rumah Sakit. Ia pergi untuk selamanya. Tangis saya pecah juga yang lainnya. Tapi Tuhan tau yang terbaik.

Bimo yang baru sampe rumah setelah dari RS dan Yasinan di rumah harus balik lagi ke rumah saya lalu ke RS jadi jaminan sampai asuransi konfirmasi. Bimo hadir untuk saya dan keluarga. Betapa bersyukur ditengah kehilangan atas kehadiran Bimo bagi saya dengan tidak egois dan pamrih. Benar adanya, Bimo dikirmkan diwaktu yang tepat oleh Tuhan.

7 hari setelah Papa berpulang, Bimo diajak bicara oleh Mama, akhirnya hari itu ia meminta saya dari tangan Mama. Selang beberapa waktu, pada bulan Juli, ia secara setengah romantis melamar saya di Gyu Kaku. Di tengah kami ngobrol sembari makan daging dengan serakahnya.

Hingga saat ini perjalanan kami, dengan rasa syukur, dilancarkan. Dengan janji untuk saling terus belajar.

Sampai nanti kami menikah dan selanjutnya. Saya berharap kami berdua bisa terus saling belajar, saling mendengar. Saling bisa membantu untuk menciptakan sebuah kesetaraan. Menjadi dua manusia yang saling bisa memanusiakan manusia dengan cinta kasih. Serta saling tumbuh bersama, dan terus saling memaafkan.



Comments

Popular Posts