Faktor X
Dalam balutan logika, hati pupus di tengah hari.
Tak ada yang lebih menyakitkan saat dua manusia tidak bisa bersama karena perkara rasa.
Saat rasa adalah yang paling krusial dan tidak dapat ditawar.
Lalu sampai pada titik mana keyakinan tak genap tanpa rasa?
Adalah memang selalu menyoal rasa, saat logika dan sederet kalkulasi sudah pada tempatnya.
Faktor X yang menjadi pengikat segalanya.
Sebuah kemustahilan yang tak dapat dijamah dengan tangan.
Tidak seperti soal relasi kuasa yang gemar menindas dan mengeksploitasi.
Bagaimana cara menjelaskan saat tetes keringat diperas untuk kebutuhan mengisi hati?
Saat bahkan tak ada hirarkis yang dapat dipersalahkan, saat tak ada yang berusaha menindas, hanya perkara rasa yang sulit dijamah, karena rasa adalah faktor dari relasi manusia dengan kepekaan jiwanya.
Faktor yang sulit bisa diurai dan dijelaskan rumusannya.
Rasa, abstraksi imaterial yang tak dapat dipaksakan.
Lalu bagaimana dengan pengorbanan yang telah dipasrahkan?
Waktu.
Uang.
Tenaga.
Harapan.
Dan...
Kecewa.
Lalu di ujung jalan, ketidakmampuan memeluk rasa pada pemberi, maka diri mengutuk parau sekali lagi, harus mengakhiri rumusan logika yang telah mapan diberi.
Lidah kelu.
Tak sampai hati harus mengaku atas tak kesanggupan rasa.
Permintaan maaf pun terdengar menyakitkan.
Maka dalam hening aku balut usaha menumbuhkan rasa, dengan asa.
Layaknya petani yang menyemai bibit di tanah kemarau. Dengan harap, kelak musim semi nanti, apa yang tlah disemai, akan tumbuh dan berbuah manis.
Semoga tidak layu, gugur, atau membusuk pada prosesnya.

Comments
Post a Comment