Malam Kala Pandemi

Aku ingin menyuguhimu teh hangat lavender kesukaanku, duduk bersebelahan, merokok dan biarkan asapnya hilang bersama angin malam.

Berbincang tentang hari baik yang belum lagi dapat kita telisik.

Pada bangku reyot tua yang kita duduki.
Pada senyapnya malam kala pandemi.

Udara menjadi begitu stagnan, kita sibuk dengan pikiran dan keresahan-keresahan didalam benak yang tak urung tenang.

Sesekali kita membicarakannya, sesekali pembicaraan menggantung tanpa juntrung. Diantara harapan dan ketakutan.

Kita dua orang kaku yang tak pandai saling mengaku.

Biar saja kupercaya ini, bahwa di dalam hati kita, ada sebuah janji akan saling mengasihi kala malam senyap ini semua berlalu, dan lagi biar manusia akan terus beradu.

Bahwa kaki kita berdua akan saling bersanding menapaki tanah asing yang belum pernah kita singgahi.

Bahwa tangan kita menggenggam lebih kuat dari sebelumnya.

Bahwa kita, saat ini,

Masih juga belum beranjak kemana-mana.

Bahwa kita, saat ini,

Hanya butiran bayangan yang terangkai pada benakku tanpa berani maju,

Tentang keinginanku menyuguhimu teh hangat lavender kesukaanku, disenyap malam kala pandemi.

Tidak kah indah? Bahwa nama kita saling menggantung di udara (lebih banyak dalam benakku), dan rasa kita tak sebatas resiko pertemuan yang menyisakan masygul belaka.

Comments

Popular Posts