Permen
Mama pernah bilang, jangan sembarangan makan permen orang.
Mama tidak tau, aku senang sekali memakan permen dengan lahap.
Entah permen milik siapa.
Permen kulumat habis, tak tersisa.
Kadang sembarang kulumat permen dalam imajinasiku sambil menyusun bata rindu yang mulai rapuh.
Mama tidak pernah mengingatkanku akan nikmatnya permen yang dikemut dan habis dengan batas waktu tertentu.
Mama juga tidak pernah menjelaskan bahayanya memakan permen orang sembarangan.
Mama hanya memberitahu dan sekedar melarang.
Mungkin Mama lupa bilang bahwa memakan permen itu bagian dari pengalihan rasa yang lupa diasuh.
Pelarian dari lidah yang mulai tak dapat mengecap rasa, melainkan logika yang setengah dipakai.

Comments
Post a Comment