Mahakarya Bercanda Ala Pencipta

Bila bicara anomali, maka kamu adalah salah satunya.

Jangan tersenyum bangga saat kau membacanya.

Pusaran arusmu terlalu kuat hingga rasanya aku hampir terhanyut dan terbawa, merelakan diri ikut jatuh pada pusaran kuat hingga menenggelamkan diri sampai kedasarnya.

Hampir saja aku merelakan diri hancur hingga kerelung dada. Tak jelas berapa lama ketahanan jiwa mampu menjejakan langkahnya.

Rasa-rasanya tak ada yang pantas memilikimu, bahkan dirimu sendiri.

Tuhanpun rasanya tepuk dada pada anomali mahakarya yang pernah Ia ciptakan.
Entah menepuk dada setengah bangga, entah setengah duka karena takut kamu akan pergi ke neraka sebelum sempat memahat karya indah bagi alam semesta.

Kamu bahkan bukan Raja Jawa yang memiliki kewenangan untuk melakukan segalanya
dengan titah kata maupun pena. Namun panah selalu kamu bawa, pedang selalu siap terhunus rapih untuk menusuk siapapun yang datang dan mengorek luka. Bahkan telah siap kamu hunuskan dan menyerang secara pasif dan diam-diam kala fajar sebelum benar tau kamu akan terluka.

Bukan juga Raja Jawa yang harus memikul beban dunia diusia muda.

Kamu hanya menjadi dirimu sendiri. Setengah bangga setengah terluka tiap kali kata keluar tanpa rasa dan sedang menebar benih dosa.

Kuanalogikan kamu seperti barang antik yang jelas rusak namun membuat gila para pengaggumnya,
rela merogoh kantong hingga menukar jiwa untuk memilikinya.

Barang antik dengan residu pahit dan indah pemilik pertamanya. Pemilik yang secara sengaja berani menoreh suka, duka, serta luka yang mengarat namun dengan sengaja dijual murah pada pemilik keduanya yang dikira akan lebih baik merawatnya, namun salah.

Kamu, barang antik yang rusak namun memikat setiap kali kisah dibelakangmu terungkap, semakin banyak tragedi alih-alih menjadi dorongan kuat untuk dibeli dan dimiliki, sebagai koleksi pribadi yang suatu hari akan dilepas dengan harga semakin tinggi.

Semakin kamu rusak, semakin indah.
Tak perlu dipoles, persis vespa tua keluaran pertama dengan harga yang tak terdefinisi kisarannya sebab tak banyak tersisa di dunia. Berkarat indah dengan sisa cat seadanya dari tangan pertama-kedua-ketiga hingga seterusnya dengan banyak kisah yang akan seiring bertambah.


Comments

Popular Posts