Perihal Ketakutan
Lalu kata orang.
Tidak, orang tidak berkata apa-apa, tapi mereka memiliki harap dan harapan yang sering takut untuk terucap.
Lalu orang mau berkata apa?
Saat dirimu mulai tidak lagi ada di bawah cahaya.
Tidak ada yang melihatmu, dan kau juga tidak berusaha untuk terlihat.
Kamu punya ketakutan yang tidak jelas.
Kamu menolak percaya pada dirimu.
Ketakutan yang membuatmu membodohi dirimu sendiri.
Diluar sana, orang lalu lalang, dan kamu menjalangkan dirimu pada balik layar lirih dalam bilik kesepian.
Kenapa harus kesepian saat banyak manusia yang mencintaimu?
Mengapa harus kau sayat dirimu sendiri dengan luka yang kau buat sendiri? Memohon meminta Berharap pada satu cinta yang hanya milikmu dan penguasa alam raya?
Haruskah aku bertahan dengan kuat, melegitimasi diri atas kesendirian dan berkoar bahwa baik-baik saja?
Bagaimana hati orang lain yang seumur hidupnya tak memiliki seseorang untuknya berbagi vaginanya dan memeluk tubuhnya ketika malam?
Aku tidak mau menjadi orang yang tidak tau diri bermuram durja padahal masih banyak jiwa yang sepi.
Kita sama-sama terluka bukan?
Kita sama-sama menikmati sakitnya menjadi diri kita sendiri.
Kita sama, bukan?
Lalu saat kau duduk, membakar rokokmu yang setengahnya bergantung terbakar tak terisap.
Pikiranmu liar pada apa yang belum terjadi.
Soal orang tuamu yang suatu hari mungkin tak ada untukmu dan tak ada tempat berpulang paling ikhlas.
Maka kamu menangis sejadinya.
Meneteskan air mata yang belum terjadi.
Penyesalan yang mungkin terjadi.
Hari ini jangan lagi bicara dahulu soal mencintai diriku sendiri.
Aku sedang bercinta dengan kegelapan.
Tidak, orang tidak berkata apa-apa, tapi mereka memiliki harap dan harapan yang sering takut untuk terucap.
Lalu orang mau berkata apa?
Saat dirimu mulai tidak lagi ada di bawah cahaya.
Tidak ada yang melihatmu, dan kau juga tidak berusaha untuk terlihat.
Kamu punya ketakutan yang tidak jelas.
Kamu menolak percaya pada dirimu.
Ketakutan yang membuatmu membodohi dirimu sendiri.
Diluar sana, orang lalu lalang, dan kamu menjalangkan dirimu pada balik layar lirih dalam bilik kesepian.
Kenapa harus kesepian saat banyak manusia yang mencintaimu?
Mengapa harus kau sayat dirimu sendiri dengan luka yang kau buat sendiri? Memohon meminta Berharap pada satu cinta yang hanya milikmu dan penguasa alam raya?
Haruskah aku bertahan dengan kuat, melegitimasi diri atas kesendirian dan berkoar bahwa baik-baik saja?
Bagaimana hati orang lain yang seumur hidupnya tak memiliki seseorang untuknya berbagi vaginanya dan memeluk tubuhnya ketika malam?
Aku tidak mau menjadi orang yang tidak tau diri bermuram durja padahal masih banyak jiwa yang sepi.
Kita sama-sama terluka bukan?
Kita sama-sama menikmati sakitnya menjadi diri kita sendiri.
Kita sama, bukan?
Lalu saat kau duduk, membakar rokokmu yang setengahnya bergantung terbakar tak terisap.
Pikiranmu liar pada apa yang belum terjadi.
Soal orang tuamu yang suatu hari mungkin tak ada untukmu dan tak ada tempat berpulang paling ikhlas.
Maka kamu menangis sejadinya.
Meneteskan air mata yang belum terjadi.
Penyesalan yang mungkin terjadi.
Hari ini jangan lagi bicara dahulu soal mencintai diriku sendiri.
Aku sedang bercinta dengan kegelapan.

Comments
Post a Comment