Martir Kesepian

Dan lalu sering kali kita memelihara kesepian, luka, dendam, kesedihan secara sadar. Menyusun semuanya menjadi bata-bata tinggi, tembok dingin yang lembab.

Sebelah hati mengemis kebahagiaan, sebelah jantung berdenyut menikmati luka dalam balutan mengasihani diri. Tak ayal kita secara sadar menjadikan diri korban disetiap kasih yang tak berhasil diraih.

Bahkan tak sedikit kita mengeraskan hati untuk menepi pada pesisir surgawi hanya karena ketakutan kehilangan diri yang sebenaranya telah hilang dimakan rayap pemakan bangkai rasa yang telah mati.

Berbondong-bondong melukai diri sendiri, lalu berteriak kesakitan mengharap ada sesorang yang membalut serta menyembuhkan luka. Berkelu kesah tak ada habisnya bahwa dunia ini gila, bahwa penghianatan adalah sumber dari kenestapaan, orang yang dicintanya menyakitinya.

Lalu pernahkah kita bertanya, "Kapan diri ini mau sembuh dan keluar dari segala kegelapan? pernahkan kita benar-benar mencari obat dari segala situasi penderitaan ini? Maukah? Bisakah?"

Sampai nanti, jika kita tetap nyaman menjadi pesakit tanpa mengizinkan diri untuk sembuh, maka tetaplah kita menderita disetiap harinya, setiap matahari menyingsing, setiap bulan meninggi, setiap cinta datang dan cinta pergi.

Bukannya menyembuhkan diri, sering kali malah kematian menjadi sebuah aset jalan keluar. Dipikiran kita kematian bagai pintu gerbang tidur panjang tanpa mimpi. Bunuh diri semisal bagai pintu gerbang pilihan atas hak asasi menuntaskan penderitaan ini.

Mengapa menampung harapan pada manusia diluar diri kita untuk menyuapi kebahagiaan?

Saat kebahagiaan hanya datang dari perasaan serta kenyataan yang kita terima tanpa embel-embel pengorbanan atau tuntutan.

Selagi bisa maka bersyukurlah.
Selagi bisa maka rubuhkan tembok yang menyiksa jiwa. Selagi bisa mengapa harus memilih menyakiti diri dan merawat sepi?

Penderitaan, jangan samakan penderitaan kita dengan Kristus, pertanyaan terbijak adalah, apa kesamaan kita dengan Kristus? apa yang telah kita korbankan bagi umat? tak setitik darah kita bisa mengakui diri sama menderitanya dengan Kristus saat penderitaan kita yang sama hanyalah pilihan terhadap penderitaan itu sendiri.

Sering kali kita menderita karena pilihan kita sendiri, maka jangan bawa Kristus pada penderitaan kita selain mendoakannya, selain kita telah berdarah untuk umat yang banyak, bukan mengorbankan diri kita hanya sekedar pengorbanan karena cinta pada seseorang yang masih manusia.

Manusia akan terus menerus menyakiti, kecuali kita tlah berdamai dengan diri dan mengenal diri kita lebih. Bahwasanya tak ada yang dapat menyakiti kita jika dan tanpa izin diri kita sendiri dan atas kuasa Sang Pencipta.

Maka, masihkah kita mengharapkan selimut hangat dari perlindungan oleh suaka sesama manusia?
Bukan bersuaka pada kekuatan Ilahi yang benar adanya, jika memang kita memutuskan bahwa Ilahi benar adanya.

Maka teruslah menderita, maka tetaplah bangun impian tanpa pernah menjajakinya, maka tetaplah terombang ambing pada kesepian padahal tembok kita yang enggan dirubuhkan, maka nikmatilah kesakitan dengan predikat pesakitan. Pencarian kita nampaknya hanya berhenti pada legitimasi banyak teori atas penderitaan diri bagai kanker yang tidak tersembuhkan.

Sebanyaknya cinta datang, sebanyaknya cinta pergi, maka kita yang menolak untuk sembuh adalah korban paling dirindukan oleh iblis. Hingga rumah megah terbangun, tak satupun kebahagiaan kita rasakan, karena tembok lembab diri kita sendiri belum juga kita hancurkan secara sukarela.

Maka, bagi kita, berdoalah aku berlutut pada Kristus, Buddha, Allah, Wisnu, dan segala Tuhan. Semoga kita semua disembuhkan dan bersyukur disetiap penderitaan dan disetiap kesembuhan yang menguatkan.

Selamat jalan ketitik terang, jika dan hanya kau mengizinkan dirimu sendiri.

Aku tunggu kamu dititik terang, tepat diluar gua menjemukan hasil karyamu.

PS. harapanku dan doaku tercipta atas dasar manusia terhadap manusia yang ingin manusia lainnya baik-baik saja. namun jika itu adalah jalanmu maka jalanilah pada kegelapan yang kau nikmati sendirian, semoga kau selamat hingga sampai tujuan, itupun jika kau punya tujuan.



Comments

Popular Posts