Lebur Diri
Terbiasa aku menulis dengan rasa marah yang merah, warna sedih yang biru, rasa sendu yang abu.
Semua warna itu ternyata telah membaur lebur menjadi satu.
Diujinyalah aku dengan peleburan yang tak semu.
Mantaplah aku dengan segala keberanianku tak memisahkan segala rasa namun menerima serta menjalaninnya.
Berbahagia dengan kesendirian, berbahagia karena tak lagi kesepian.
Aku tak pernah sendirian.
Aku dengan diriku kini tlah berkawan dan saling mencintai.
Jika aku merintih sepi mungkin karena aku sedang horny.

Comments
Post a Comment