Dialektika Rasa

Siapa yang menyimpan detak bersama matinya jalan buntu? Sesekali mereka ulang memori bak residu begitu nyata terjadi, debar dan hangat menjadikan kita dua manusia cacat rasa serta empati yang dilumat bunga-bunga liar tak patut tumbuh.
Anomali bukan persoalan kecil. Waktu begitu baik dan jahat dalam waktu bersamaan, ia membiarkan kita berbahagia pada singkatnya malam dan teriknya siang beberapa jam lalu tercerabutnyalah kita pada kepastian realita yang tak bisa dihilangkan.

Paling tidak, kita pernah berjumpa, begitu?

Haruskah dibuat ada sesal agar merasa lebih baik daripada bersyukur karena semua begitu masih terasa indah, sedang menyesal akan buat kita menjadi manusia pada umumnya, lalu kita saling benci dan mengutuk waktu, mengutuk satu sama lain.
Tapi toh kan kita tidak begitu, kita bukan dua manusia yang memiliki niat untuk membenci bahkan pada waktu serta semesta yang main canda pada kita.
Egoisnya memang konektifitas manusia, egoisnya harga sebuah duduk di taman, dengar lonceng gereja, hangatnya sentuhan, renyahnya tawa, busuknya cerita, harga yang kita bayar cukup mahal. Dengan dosa, penghianatan, kebohongan, tangis air mata yang tak seharusnya jatuh dari yang agung.

Maka kitalah penjahat sebenarnya, hentilah kita salahkan waktu yang main canda.

Kita yang harusnya malu telah menjadi pesakit anti kritik.

Comments

Popular Posts