Catatan Sore soal Pernikahan
Dalam satu waktu pikiranku bercabang, namun yang paling kencang adalah desakan menyoal 'jodoh'.
Kenapa struktural? mungkin yah disini aku berusaha mencari kambing hitam, bahwa kesepianku timbul dari sebuah kesadaran tekanan sosial secara tidak langsung yang lumrahnya bahwa pada usiaku saat ini seharusnya aku sudah menikah. Serta sebuah keniscayaan bahwa manusia dilahirkan saling berpasangan, meski ini konsep yang sangat agamis namun mungkin diam-diam aku percaya tanpa menghendaki bahwa ada manusia yang akhirnya hidup hingga mati tua bersama kucing yang banyak (eh lho, pasangannya kucingkah?). Walau memang sekarang masyarakat lebih terbuka dengan option soal menikah dan tidak menikah sebagai hak atau status quo diri terhadap pilihan hidup. Tapi bolehlah bisa jadi ini sebuah bentuk sistem diluar diri kita yang merasuk pada "belief system" diri tanpa kita benar-benar sadar hingga menimbulkan kesadaran atas kesepian itu sendiri, tuntutan secara tidak sadar bahwa aku sebagai manusia membutuhkan dan menuntut Tuhan untuk cepat-cepat pertemukan aku dengan pasangan yang katanya sebuah keniscayaan.
Menikah menjadi sebuah janji utopis dalam level hidup masyarakat, bahwa menikah adalah sebuah pencapaian, bahwa menikah akan bikin kedua orang tuaku bangga, bahwa akhirnya aku lepas dari tanggung jawab kedua orang tuaku, bahwa aku menjadi manusia baru yakni Istri bagi seseorang dan kelak menjadi ibu bagi anak-anakku, bahwa menikah menjadikanku manusia yang lebih utuh. Coba kita berpikir ulang dan melihat fakta. Menikah tak membuat hidup menjadi lebih mudah, tak juga membuat beban pikiran orang tua kita berkurang, tak juga sebuah janji akan menjadikan kita manusia utuh. Bukti terpampang nyata dari generasi ke generasi bahwa pernikahan tidak benar-benar membuatmu bahagia, banyak masalah disana, banyak konflik yang harus dituntaskan dan kadang tidak tuntas namun harus dipikul seumur hidup. Yah jangan-jangan aku saja sih yang terlalu memandang sinis untuk melindungi perasaan aku sendiri. Bisa jadi pernikahan akan bisa menjadikanku benar utuh dan bahagia (Allahualam geng!).
Alasan lain bisa jadi memang kesadaran yang datang dari kebutuhan psikologis dan biologis. Bahwa aku manusia dewasa yang butuh kawan untuk melampiaskan afeksi dan mendapatkannya dari satu orang yang aku cinta (kita tidak akan bicara soal cinta dahulu soal ini, bisa panjang dan runyam) dan faktor berikutnya adalah kebutuhan biologis yang datangnya mungkin dari bawah pusar, menjijikan tapi toh memang tidak bisa dilepaskan selama aku menjadi manusia dan belum sumpah selibat.
Ada alasan lain yang mungkin sama kuatnya dengan faktor-faktor diatas, yakni diam-diam aku mendamba sebuah tujuan hidup dan motivasi untuk berjuang dan dibutuhkan. Jangan-jangan aku ingin diinginkan, ingin dibutuhkan, ingin alasan untuk tetap hidup, ingin alasan agar berjuang lebih keras. Menikah menjadi sebuah tujuan untuk membangun diri, membangun dan melahirkan. Beranak pinak lewat sex yang awalnya seru dan lama-lama wagu. Membangun sebuah kehidupan. Sebuah tujuan yang setengahnya aku penasaran. Ya ini bisa jadi salah satunya.
Jadi bagaimana? apa tulisan ini buatku lebih lega soal gejolak ingin Jodoh? rasanya tidak juga. Masih ada rasa penasaran atas misteri ini. Jika bicara soal alasan soal darimana datangnya keinginan ataupun rasa kesepian yang datang karena belum menikah, rasanya kurang adil yah. Haruskah aku mulai mengulik faktor apa yang membuatku belum juga dipertemukan oleh jodohku? tapi rasanya akan menjadi akibat buruk bagi diriku sendiri, karena ya ampun aku masih banyak kurang ini dan itu. Akhirnya aku hanya bisa berpasrah saja sambil mencari alasan sinik soal pernikahan.
Kenapa juga soal jodoh dan pernikahan begitu pelik diotak dan hatiku. Semprul benar.
Saat tulisan ini diketik, aku rasanya malas menjadi sok positif dan menumbuhkan optimisme bahwa Jodoh adalah pintu kebahagiaan lahir batin.
Pencarianku soal jodoh terlalu berliku belakangan, jadi yah aku rehat sebentar sajalah. Perang antara suguhan candaan nasib dari Tuhan ataupun Waktu dengan batin serta logikaku belum juga rekonsiliasi. Jadi biarkan tulisan ini menggantung tanpa kesimpulan pasti.
Intinya, aku masih mau menikah tapi aku lelah harus kesepian bak menikah adalah sebuah kesempurnaan dengan atau tanpa alasan faktor terkaan diatas.
Cheers , Silithappens si pencari jodoh yang sedang lelah mencari jodoh.
Beberapa waktu lalu, aku menemukan sebuah quotes pada Instagram yang kira-kira berbunyi: "Semakin kau ingin kaya, semakin pula kau merasa miskin", quotes sederhana ini lumayan menggugahku yang sedang terlihat menyedihkan mengeluhkan setiap hari betapa sedihnya aku hidup usia 28 tahun dan belum juga menemukan jodohku. Semakin aku ingin mendapatkan jodoh, semakin pula aku menyedihkan dan mempercundang diri atas kesepian. Sebuah kesadaran satir bahwa aku diperbudak oleh pikiranku sendiri, diperbudak oleh keinginan, diperbudak oleh rasa yang timbul secara struktural.
Kenapa struktural? mungkin yah disini aku berusaha mencari kambing hitam, bahwa kesepianku timbul dari sebuah kesadaran tekanan sosial secara tidak langsung yang lumrahnya bahwa pada usiaku saat ini seharusnya aku sudah menikah. Serta sebuah keniscayaan bahwa manusia dilahirkan saling berpasangan, meski ini konsep yang sangat agamis namun mungkin diam-diam aku percaya tanpa menghendaki bahwa ada manusia yang akhirnya hidup hingga mati tua bersama kucing yang banyak (eh lho, pasangannya kucingkah?). Walau memang sekarang masyarakat lebih terbuka dengan option soal menikah dan tidak menikah sebagai hak atau status quo diri terhadap pilihan hidup. Tapi bolehlah bisa jadi ini sebuah bentuk sistem diluar diri kita yang merasuk pada "belief system" diri tanpa kita benar-benar sadar hingga menimbulkan kesadaran atas kesepian itu sendiri, tuntutan secara tidak sadar bahwa aku sebagai manusia membutuhkan dan menuntut Tuhan untuk cepat-cepat pertemukan aku dengan pasangan yang katanya sebuah keniscayaan.
Menikah menjadi sebuah janji utopis dalam level hidup masyarakat, bahwa menikah adalah sebuah pencapaian, bahwa menikah akan bikin kedua orang tuaku bangga, bahwa akhirnya aku lepas dari tanggung jawab kedua orang tuaku, bahwa aku menjadi manusia baru yakni Istri bagi seseorang dan kelak menjadi ibu bagi anak-anakku, bahwa menikah menjadikanku manusia yang lebih utuh. Coba kita berpikir ulang dan melihat fakta. Menikah tak membuat hidup menjadi lebih mudah, tak juga membuat beban pikiran orang tua kita berkurang, tak juga sebuah janji akan menjadikan kita manusia utuh. Bukti terpampang nyata dari generasi ke generasi bahwa pernikahan tidak benar-benar membuatmu bahagia, banyak masalah disana, banyak konflik yang harus dituntaskan dan kadang tidak tuntas namun harus dipikul seumur hidup. Yah jangan-jangan aku saja sih yang terlalu memandang sinis untuk melindungi perasaan aku sendiri. Bisa jadi pernikahan akan bisa menjadikanku benar utuh dan bahagia (Allahualam geng!).
Alasan lain bisa jadi memang kesadaran yang datang dari kebutuhan psikologis dan biologis. Bahwa aku manusia dewasa yang butuh kawan untuk melampiaskan afeksi dan mendapatkannya dari satu orang yang aku cinta (kita tidak akan bicara soal cinta dahulu soal ini, bisa panjang dan runyam) dan faktor berikutnya adalah kebutuhan biologis yang datangnya mungkin dari bawah pusar, menjijikan tapi toh memang tidak bisa dilepaskan selama aku menjadi manusia dan belum sumpah selibat.
Ada alasan lain yang mungkin sama kuatnya dengan faktor-faktor diatas, yakni diam-diam aku mendamba sebuah tujuan hidup dan motivasi untuk berjuang dan dibutuhkan. Jangan-jangan aku ingin diinginkan, ingin dibutuhkan, ingin alasan untuk tetap hidup, ingin alasan agar berjuang lebih keras. Menikah menjadi sebuah tujuan untuk membangun diri, membangun dan melahirkan. Beranak pinak lewat sex yang awalnya seru dan lama-lama wagu. Membangun sebuah kehidupan. Sebuah tujuan yang setengahnya aku penasaran. Ya ini bisa jadi salah satunya.
Jadi bagaimana? apa tulisan ini buatku lebih lega soal gejolak ingin Jodoh? rasanya tidak juga. Masih ada rasa penasaran atas misteri ini. Jika bicara soal alasan soal darimana datangnya keinginan ataupun rasa kesepian yang datang karena belum menikah, rasanya kurang adil yah. Haruskah aku mulai mengulik faktor apa yang membuatku belum juga dipertemukan oleh jodohku? tapi rasanya akan menjadi akibat buruk bagi diriku sendiri, karena ya ampun aku masih banyak kurang ini dan itu. Akhirnya aku hanya bisa berpasrah saja sambil mencari alasan sinik soal pernikahan.
Kenapa juga soal jodoh dan pernikahan begitu pelik diotak dan hatiku. Semprul benar.
Saat tulisan ini diketik, aku rasanya malas menjadi sok positif dan menumbuhkan optimisme bahwa Jodoh adalah pintu kebahagiaan lahir batin.
Pencarianku soal jodoh terlalu berliku belakangan, jadi yah aku rehat sebentar sajalah. Perang antara suguhan candaan nasib dari Tuhan ataupun Waktu dengan batin serta logikaku belum juga rekonsiliasi. Jadi biarkan tulisan ini menggantung tanpa kesimpulan pasti.
Intinya, aku masih mau menikah tapi aku lelah harus kesepian bak menikah adalah sebuah kesempurnaan dengan atau tanpa alasan faktor terkaan diatas.
Cheers , Silithappens si pencari jodoh yang sedang lelah mencari jodoh.

Comments
Post a Comment