Surat Duka

Surat duka tersebar disudut-sudut penat polusi padat. Menghirup dan menghidupi keruhnya udara campur kalutnya kabar simpang siur.
Menggelegar menyentak sadar mengandung hati yang babak berlur tertoreh luka. Tak sesiapapun berani bertanya titik arti pada jiwanya.

Seorang perempuan lusuh berbisik lirih, dimana aku boleh bersandar? Dimana aku boleh pulang? Dimana aku boleh merasa aman? Dimana harapan disimpan? Dimana aku boleh berkejaran? Dimana aku tak rasa stagnan? Dimana aku boleh buang sepi? Dimana aku boleh bilang rindu? Dimana luka jiwaku boleh dibasuh? Dimana aku boleh aku memberi? Dimana aku boleh berlayar pergi? Dimana aku boleh membuang ke-aku-an-ku? Dimana kamu? Dimana masa depanku? Dimana aku? Dimana?

Surat duka, rupanya tak buat dia menyerah pada pertanyaan yang jawabannya tertera pada kode-kode rumit kehidupan, dibawah kolong-kolong lendir, diberisiknya peraduan desah, dinanarnya mata sang serigala.
Tubuhnya tak rapuh, jiwanya yang jatuh, hatinya tak juga penuh.

Begitu terus hingga polusi tak lagi mengusiknya.

Perempuan merindu dibawanya surat duka itu, dibakarnya dengan senduh, ditaburkannya dibawah pohon randu.

Suatu hari ia akan ditandu, pulang kerumah duka yang isinya tangisan berderu, setelahnya dilupakan ia dengan tanya masih mengambang diudara.

Comments

Popular Posts