Potongan Percakapan yang Tak Akan Pernah Selesai
Lalu aku diam saja menunggumu bicara, namun tak sepatah kata yang kau ucapkan, tak juga gumaman acak yang biasa kau keluarkan dengan jenakannya.
Hari ini kita berdua menatap langit yang sama, malam ini suhu mencapai 23 derajat celsius, cukupan dingin bagi udara Jakarta pada malam hari. Kita berdua justru gerah bukan main.
Kamu terbatuk kecil, lalu kusodorkan cepat-cepat air pada botol kemasa. Ah! Sial aku masih segitu peduli untuk tak membiarkannya tercekat pada frasa tegang pada urat nadinya.
Kucuri pandang wajahnya, temaram cahaya bulan menunjukan garis wajah tegasnya.
Wajah yang selalu familiar kunikmati setiap harinya, bahkan hingga detik ini.
Bibirnya yang pernah kusering lumat dari paling halus hingga paling kasar.
Masih juga ia tak bicara, masih juga aku tak bicara.
Suara kodok begitu lantang terdengar, tanpa malu. Peluhku mulai menetes dingin, jengah bukan main menunggu ucapnya keluar dari bibir indahnya.
Lagi, ia terbatuk kecil.
Kali ini aku diam, karena botol sebelumnya masih pada genggamannya.
Cepat-cepat kuambil rokok dari tasku dan kubakar, kuhisap dalam-dalam.
Sebenarnya sudah berbulan-bulan kita tak jumpa setelah akhir kata kita berkata pisah.
Aku tertunduk, hanya menatap sepatu kumalku, berharap ada batuk besar darinya hingga aku punya alasan mengelus punggungnya.
Lalu ia berdeham secara tiba-tiba. Ia berkata, halo kita jumpa lagi. Lalu kubalas senyuman kecil sedikit menyembunyikan perih.
Sambungnya, lalu bagaimana? Akankah kau hanya berdiam diri saja? Memandang sepatu kumalmu yang tak juga kau ganti?
Kini senyumku merekah, intonasi nada bicaranya jenaka yang familiar.
Hmmm.. kamu taulah, kamu tau betapa kucinta sepatu ini, ini pemberianmu pada gaji pertamamu, tak mungkin kuganti dengan mudah.
Desis terdengar dari sudut bibirnya.
Kamu lebih tau, sepatu itu murahan kubeli saat diskon, tak sesepecial itu untuk harus kamu pertahankan. Sama saja kamu ini masih juga bodoh.
Lalu cepat-cepat kulepaskan sepatu itu dan kulempar jauh. Puas? Kataku setengah teriak.
No! Aku baru saja menyulut api baru!
Tak bergeming, ia hanya menatap tanah.
Begitulah seharusnya, sambungnya.
Kau buang jauh sebelum rusak, sebelum sepatumu menjadi bahan tertawaan khalayak umum. Tak patut kau simpan, tak patut kau jaga. Menjadi sampah adalah tempat terbaiknya.
Kamu mengajakku bertemu hanya untuk perkara sepatu?, nadaku meninggi.

Comments
Post a Comment