Kita, tanda kutip.
Bayangkan "kita" tak pernah berjumpa, maka hari ini kamu tak terlintas dalam pikiranku.
Bayangkan "kita" tak pernah berjumpa, maka mungkin "kita" tak sedang bermain api menunggu luka baru menganga diujung cerita.
"Kita" berdua suka dengan ide jatuh cinta, bercinta, menyapa, bercerita, bercanda, membaca, menebak rebak rasa yang mulai kerasan pada cerita yang tak semestinya. Bagi "kita" berdua yang penting diantara singgungan waktu, "kita" ada bagi sesama.
Saling menguatkan, saling memberi yang dibutuhkan.
Saling merayu.
Merajuk.
Memberi teduh pada jiwa yang lusuh.
Ada disela-sela percakapan "kita", sesekali aku menyelipkan skenario cerita berbeda tentang "kita". Tentunya secara diam-diam dan tak berani kuungkapkan.
Kira-kira skenario seperti ini: Paling tidak diwaktu yang berbeda saat masih ada peluang untuk kita membangun rumah untuk pulang berdampingan dengan bata-bata indah tersusun diantara perdebatan liar kita namun penuh kasih diantaranya. Kita mungkin tak akan menyerah disenggal gerah dan lelah, kita membenci lalu bercengkrama setelahnya.
Tapi apa artinya?
Artinya mungkin bila itu terjadi, aku bukanlah aku hari ini dan kamu juga bukanlah kamu hari ini.
Mungkin bukan kita hari ini, dan pastinyalah jika itu terjadi bukanlah kita.
Kita belum menentukan dimana ujung harus dibentuk.
Kita dua manusia terkutuk, dibentuk kultur yang disegarkan setiap harinya.
Dengan tanda tanya gantung pada permainan semesta.
"Kita", kukutip.
Karena tak pernah ada kita diluar kutipan yang kupinjam sementara.

Comments
Post a Comment