Jilat Ludah Berjamaah Lewat Koplo
Saya dan Koplo
Saya nggak tau sih harus terimakasih sama Via Vallen, Nella Kharisma atau Didi Kempot menyoal tren koplo yang tanpa segan melakukan penetrasi halus kepada pendengar skeptis yang pro lagu pop barat setengah mati atau lagu indie folk indonesia khususnya kalangan muda benga macam saya.
Sejak boomingnya lagu Sayang, wah gila sih saya memaki tapi diam-diam tanpa malu menempatkan lagu ini pada playlislist "HEAR WHAT I HEAR" spotify saya. Gilanya sekarang saya terbuka dan setengah bangga fasih menyanyikan Sayang setiap karokean ataupun disela-sela jam istirahat kerja sambil disoraki geleng kepala kawan sejawat saya.
Terlepas dari "Sayang" versi Via Vallen, saya masih skeptis dengan musik koplo, karena memang segitu norak kalau mau diakui atau jangan-jangan saya hanya malu turun gengsi saja sih karena secara tidak sadar harus mempertahankan image perempuan metropolitan yang taste musiknya harus bagus dan jauh dari musik murahan, tapi ini sebenarnya gak jauh dari perkara status sosial sih. Tidak berhenti pada Via Vallen, seperti belajar bijak dalam memandang segala hal yah saya mencoba curi dengar lagu-lagu lain dari rival Via Vallen sendiri yakni Nella Kharisma dengan alasan dasar "kenapa tidak?". Harus diakui diam-diam saya menikmati sambil sebenarnya memaki diri sendiri atas kehinaan keji yang indah ini.
Awalnya seorang kawan si pekerja (keras) lapangan yang banyak bergaul dengan masyarakat warungan dan berbagai macam kerasnya Jakarta, rupanya kena juga dia dengan sirep perkoploan. Saya menertawakan dia paling keras pada bulan Desember 2018 saat kita berdua makan malam selepas kerja di Bopet Mini Benhil. Rupannya Spotify memiliki feature report lagu apa saja yang kita paling sering dengar selama setahun yakni "Your Top Songs 2018". Pada list report milikinya terdapat list lagu Prawan Kalimantan - Didi Kempot, Kimcil Kepolen dan beberapa list lagu koplo lainnya yang saya lupa judul dan penyanyinya. Kawan sayapun menertawakan keras "Your Top Songs 2018" milik saya terdapat Via Vallen - Sayang dan Dian Piesesha - Ku Tak Mau Sendiri. Maklum sajalah tahun suram masa itu.
Ada hal yang menarik dari percakapan saya disela tawa meledak soal dia jatuh hati pada koplo. Ia berkata agak serius, kira-kira ia menjelaskan bahwa dia butuh dengar lagu semacam ini untuk penghiburan pikiran dan jiwa semata. Menjadi norak itu diperlukan, nyeleneh dari hal normal yang biasa dia dengarkan disela lelah bekerja dan peliknya masalah cinta, keuangan serta soal keluarga. Saat itu sih saya malah sedih dengar alasan dia, bagaimana tidak? dia salah satu manusia yang saya tau pecinta Dadang Dialog Dini Hari, bahkan menolak dengar Silampukau karena dia bilang terlalu folk (yang ini jangan didebat, saya juga malas ngedebatnya, masalah taste musik memang orang punya alasannya sendiri) akhirnya men"downgrade" dirinya untuk berlutut pada sebuah kekoploan.
Balik soal saya dan koplo, selang beberapa waktu saya masih stick dengan Via Vallen - Sayang. Ada kawan saya di Jogja yang belakangan share terus link Nella Kharisma, ternyata dari jazz dia turun gunung ke Nella Kharisma. Alasan dia sih yah karena dia suka Nella secara visual serta suaranya. Disitulah saya berkenalan dengan Nella dan Banyu Langitnya, belakangan saya baru tau Didi Kempot yang sebenarnya menyanyikan lagu ini, belum lagi sih saya telusur lebih dalam siapa pencipta lagu sebenarnya. Karena menurut kawan saya lainnya bahwa lagu-lagu dangdut ini sebeneranya banyak diciptakan oleh band dangdut yang tidak punya kapasitas ketenaran maka lagunya dijual berikut hak ciptanya, entah benar atau salah.
Saya si perempuan metropolitan yang kadang sok pretentious terhadap taste musik, baju, dan film akhirnya berani menanggalkan itu semua dan mulai coba melebarkan kuping saya ke ranah koplo. Sampai saat saya ketik tulisan tidak berfaedah ini, penyanyi koplo yang saya dengar masih berputar pada Didi Kempot, Via Vallen dan Nella Kharisma. Itupun masing-masing hanya lagu yang memang saya patut acung jempol. Kuping saya masih agak sombong memang, belum mau benar-benar tekuk lutut pada kekoploan secara penuh.
Via Vs Nella
Tujuan saya menuliskan soal koplo sih sebenarnya hanya ingin mengungkapkan takjub saya dengan fenomena koplo yang mulai merambah pada pendengar muda kekinian atau kelas menengah (belum nemu yang keatas sih so-far). Kasusnya yah seputar pengalaman saya dan kawan saya sebagai acuan utamanya. Sah saja sih karena, ayolah kita berdua mengejek dan menikmati dalam waktu bersamaan, sok taunya saya sih bisa jadi benar fenomena koplo ini akan menjadi genre musik alternatif bagi kalangan muda.
Hal yang menarik adalah bagaimana Via Vallen secara pribadi bisa diterima begitu mudah tanpa terkesan murahan, jauh dari image glamour ala Iis Dahlia ataupun Inul sekalian. Fresh saja sesuai dengan umurnya. Untuk Nella Kharisma sendiri saya kurang tertarik kecuali lagu Banyu Langitnya yang kena direlung dada. Mungkin untuk Nella Kharisma kesan 'murah' itu masih ada, apa lagi video klip Kau Tercipta Bukan Untukku, walau lagunya enak yah tapi ternyata penilaian saya juga masih sangat tidak objektif walaupun mungkin nantinya saya bisa dimarahi banyak orang karena seenak melabeli orang. Tapi apa mau dikata memang pada ranah musik kadang penyanyi perempuan apa lagi dangdut, image cewek gemes yang menimbulkan imajinasi para lelaki memang diperlukan karena emang menjadi salah satu modal paling joss seperti kopi joss.
Via maupun Nella, bisa jadi cuma beda nasib saja sih atau memang karakter image yang dibangun juga berbeda. Via prestasinya bisa dibilang patut dibanggakan dengan diberi kepercayaan untuk menjadi salah satu menyanyikan theme song Asian Games 2018 dan cukup booming. Nella sejauh ini namanya masih stuck dikelas tertentu, lebih 'dosa' dengar Nella rasanya dibandingkan Via. Dengan alasan yang belum bisa saya ungkapkan, eh tapi bisa jadi karena Nella belum benar-benar bisa mengambil hati khalayak pecinta pop barat macam saya secara brand imagenya. Nella seperti masih stuck pada image 'pantura'.
Sedangkan Via berhasil bikin takjub saya dengan cover Blackpink - Dududu dan juga yang baru-baru ini jadi trending di youtube dengan Senorita - Shwan Mendes feat Camila Cabello. Well, Nella ada cover lagu sih tapi masih wawasan lokal dan belum bisa buat saya tidak merasa dosa saat dengar lagunya.
Penyanyi koplo perempuan kekinian sebenarnya tidak berhenti di Via dan Nella, ada juga seperti Siti Badriah dengan Lagu Syantik-nya yang tak kalah booming tapi belum bisa buat saya ngulik lagu-lagunya yang lain selain untuk karokean biar suasana seru saja bukan karena saya nyanyikan karena saya suka.
Semoga kedepannya lebih banyak lagi penyanyi perempuan macam Via yang gak melulu harus dengan image sexy yang bikin laki-laki keras saat menikmati visual maupun lagunya.
#Sadbois
Hashtag ini melekat pada saya sejak seminggu kemarin karena dua minggu sebelumnya saya dapat rekomendasi whos to follow ditwitter yang ternyata adalah twitter Didi Kempot (@didikempotid), tak pikir lama saya follow dengan bangga, awalnya hanya untuk bahan recehan tawa saya eh lama-lama rasa sayang itu timbul apalagi setelah beliau post release lagu barunya "TATU" yang claimnya didedikasikan special untuk para #sadois dan #sadgirls. Semacam ada rasa bangga walau belum benar jatuh cinta dengan Didi Kempot hingga dengar lagunya setiap hari, namun ada rasa jatuh hati dengan hashtag catchynya dan twit beliau yang tak kalah menarik dan kerap bikin saya ngakak sendiri.
Terlepas dari karya beliau yang tidak lagi perlu diragukan kualitasnya, saya merasa ada kedekatan baru pada beliau via twitter. Tadinya nama Didi Kempot yah sekedar legend dari beda dunia. Namun bisa jadi twitter disini menjembatani kalangan muda untuk mulai mengenal dunia perkoplokan melalui lagu serta nilai-nilai per"Didi Kempot"an. Bagaimana Didi Kempot bukan lagi sekedar legend asing dari dunia lain namun merambah kepada ala-ala nilai-nilai itu sendiri hingga timbulnya barisan para #sadbois dan #sadgirls dimana dari lagu Didi Kempot patah hati bisa dirayakan dan ditertawakan. Bapak Patah Hati Nasional dan sederet predikat lainnya seperti "Lord of Broken Heart", bukan sebuah predikat sederhana yang timbul begitu saja tapi dari kejujurannya yang indah pada setiap lirik dan suara khasnya serta musik patah hati yang bisa bikin goyang kepala.
Koplo lewat Didi Kempot, Via Vallen, Nella Kharisma merupakan ibarat anggur merah orangtua yang dahulu dicerca karena murah dan khas anak jalanan yang tidak punya banyak dana untuk mabuk eh tapi malah hari ini dielu-elukan anak muda kelas menengah dan bahkan berhasil penetrasi kesegala kelas (diam-diam saya tunggu intisari membuat trobosan yang sama). Bagi penikmat baru, mari sama-sama kita menjilat ludah kita sendiri secara khidmat.
Akhir kata saya hanya cuma bisa goyang takjub dan menikmati guilty pleasure bernama Koplo.
Saya nggak tau sih harus terimakasih sama Via Vallen, Nella Kharisma atau Didi Kempot menyoal tren koplo yang tanpa segan melakukan penetrasi halus kepada pendengar skeptis yang pro lagu pop barat setengah mati atau lagu indie folk indonesia khususnya kalangan muda benga macam saya.
Sejak boomingnya lagu Sayang, wah gila sih saya memaki tapi diam-diam tanpa malu menempatkan lagu ini pada playlislist "HEAR WHAT I HEAR" spotify saya. Gilanya sekarang saya terbuka dan setengah bangga fasih menyanyikan Sayang setiap karokean ataupun disela-sela jam istirahat kerja sambil disoraki geleng kepala kawan sejawat saya.
Terlepas dari "Sayang" versi Via Vallen, saya masih skeptis dengan musik koplo, karena memang segitu norak kalau mau diakui atau jangan-jangan saya hanya malu turun gengsi saja sih karena secara tidak sadar harus mempertahankan image perempuan metropolitan yang taste musiknya harus bagus dan jauh dari musik murahan, tapi ini sebenarnya gak jauh dari perkara status sosial sih. Tidak berhenti pada Via Vallen, seperti belajar bijak dalam memandang segala hal yah saya mencoba curi dengar lagu-lagu lain dari rival Via Vallen sendiri yakni Nella Kharisma dengan alasan dasar "kenapa tidak?". Harus diakui diam-diam saya menikmati sambil sebenarnya memaki diri sendiri atas kehinaan keji yang indah ini.
Awalnya seorang kawan si pekerja (keras) lapangan yang banyak bergaul dengan masyarakat warungan dan berbagai macam kerasnya Jakarta, rupanya kena juga dia dengan sirep perkoploan. Saya menertawakan dia paling keras pada bulan Desember 2018 saat kita berdua makan malam selepas kerja di Bopet Mini Benhil. Rupannya Spotify memiliki feature report lagu apa saja yang kita paling sering dengar selama setahun yakni "Your Top Songs 2018". Pada list report milikinya terdapat list lagu Prawan Kalimantan - Didi Kempot, Kimcil Kepolen dan beberapa list lagu koplo lainnya yang saya lupa judul dan penyanyinya. Kawan sayapun menertawakan keras "Your Top Songs 2018" milik saya terdapat Via Vallen - Sayang dan Dian Piesesha - Ku Tak Mau Sendiri. Maklum sajalah tahun suram masa itu.
Ada hal yang menarik dari percakapan saya disela tawa meledak soal dia jatuh hati pada koplo. Ia berkata agak serius, kira-kira ia menjelaskan bahwa dia butuh dengar lagu semacam ini untuk penghiburan pikiran dan jiwa semata. Menjadi norak itu diperlukan, nyeleneh dari hal normal yang biasa dia dengarkan disela lelah bekerja dan peliknya masalah cinta, keuangan serta soal keluarga. Saat itu sih saya malah sedih dengar alasan dia, bagaimana tidak? dia salah satu manusia yang saya tau pecinta Dadang Dialog Dini Hari, bahkan menolak dengar Silampukau karena dia bilang terlalu folk (yang ini jangan didebat, saya juga malas ngedebatnya, masalah taste musik memang orang punya alasannya sendiri) akhirnya men"downgrade" dirinya untuk berlutut pada sebuah kekoploan.
Balik soal saya dan koplo, selang beberapa waktu saya masih stick dengan Via Vallen - Sayang. Ada kawan saya di Jogja yang belakangan share terus link Nella Kharisma, ternyata dari jazz dia turun gunung ke Nella Kharisma. Alasan dia sih yah karena dia suka Nella secara visual serta suaranya. Disitulah saya berkenalan dengan Nella dan Banyu Langitnya, belakangan saya baru tau Didi Kempot yang sebenarnya menyanyikan lagu ini, belum lagi sih saya telusur lebih dalam siapa pencipta lagu sebenarnya. Karena menurut kawan saya lainnya bahwa lagu-lagu dangdut ini sebeneranya banyak diciptakan oleh band dangdut yang tidak punya kapasitas ketenaran maka lagunya dijual berikut hak ciptanya, entah benar atau salah.
Saya si perempuan metropolitan yang kadang sok pretentious terhadap taste musik, baju, dan film akhirnya berani menanggalkan itu semua dan mulai coba melebarkan kuping saya ke ranah koplo. Sampai saat saya ketik tulisan tidak berfaedah ini, penyanyi koplo yang saya dengar masih berputar pada Didi Kempot, Via Vallen dan Nella Kharisma. Itupun masing-masing hanya lagu yang memang saya patut acung jempol. Kuping saya masih agak sombong memang, belum mau benar-benar tekuk lutut pada kekoploan secara penuh.
Via Vs Nella
Tujuan saya menuliskan soal koplo sih sebenarnya hanya ingin mengungkapkan takjub saya dengan fenomena koplo yang mulai merambah pada pendengar muda kekinian atau kelas menengah (belum nemu yang keatas sih so-far). Kasusnya yah seputar pengalaman saya dan kawan saya sebagai acuan utamanya. Sah saja sih karena, ayolah kita berdua mengejek dan menikmati dalam waktu bersamaan, sok taunya saya sih bisa jadi benar fenomena koplo ini akan menjadi genre musik alternatif bagi kalangan muda.
Hal yang menarik adalah bagaimana Via Vallen secara pribadi bisa diterima begitu mudah tanpa terkesan murahan, jauh dari image glamour ala Iis Dahlia ataupun Inul sekalian. Fresh saja sesuai dengan umurnya. Untuk Nella Kharisma sendiri saya kurang tertarik kecuali lagu Banyu Langitnya yang kena direlung dada. Mungkin untuk Nella Kharisma kesan 'murah' itu masih ada, apa lagi video klip Kau Tercipta Bukan Untukku, walau lagunya enak yah tapi ternyata penilaian saya juga masih sangat tidak objektif walaupun mungkin nantinya saya bisa dimarahi banyak orang karena seenak melabeli orang. Tapi apa mau dikata memang pada ranah musik kadang penyanyi perempuan apa lagi dangdut, image cewek gemes yang menimbulkan imajinasi para lelaki memang diperlukan karena emang menjadi salah satu modal paling joss seperti kopi joss.
Via maupun Nella, bisa jadi cuma beda nasib saja sih atau memang karakter image yang dibangun juga berbeda. Via prestasinya bisa dibilang patut dibanggakan dengan diberi kepercayaan untuk menjadi salah satu menyanyikan theme song Asian Games 2018 dan cukup booming. Nella sejauh ini namanya masih stuck dikelas tertentu, lebih 'dosa' dengar Nella rasanya dibandingkan Via. Dengan alasan yang belum bisa saya ungkapkan, eh tapi bisa jadi karena Nella belum benar-benar bisa mengambil hati khalayak pecinta pop barat macam saya secara brand imagenya. Nella seperti masih stuck pada image 'pantura'.
Sedangkan Via berhasil bikin takjub saya dengan cover Blackpink - Dududu dan juga yang baru-baru ini jadi trending di youtube dengan Senorita - Shwan Mendes feat Camila Cabello. Well, Nella ada cover lagu sih tapi masih wawasan lokal dan belum bisa buat saya tidak merasa dosa saat dengar lagunya.
Penyanyi koplo perempuan kekinian sebenarnya tidak berhenti di Via dan Nella, ada juga seperti Siti Badriah dengan Lagu Syantik-nya yang tak kalah booming tapi belum bisa buat saya ngulik lagu-lagunya yang lain selain untuk karokean biar suasana seru saja bukan karena saya nyanyikan karena saya suka.
Semoga kedepannya lebih banyak lagi penyanyi perempuan macam Via yang gak melulu harus dengan image sexy yang bikin laki-laki keras saat menikmati visual maupun lagunya.
#Sadbois
Hashtag ini melekat pada saya sejak seminggu kemarin karena dua minggu sebelumnya saya dapat rekomendasi whos to follow ditwitter yang ternyata adalah twitter Didi Kempot (@didikempotid), tak pikir lama saya follow dengan bangga, awalnya hanya untuk bahan recehan tawa saya eh lama-lama rasa sayang itu timbul apalagi setelah beliau post release lagu barunya "TATU" yang claimnya didedikasikan special untuk para #sadois dan #sadgirls. Semacam ada rasa bangga walau belum benar jatuh cinta dengan Didi Kempot hingga dengar lagunya setiap hari, namun ada rasa jatuh hati dengan hashtag catchynya dan twit beliau yang tak kalah menarik dan kerap bikin saya ngakak sendiri.
| https://twitter.com/didikempotid |
| https://twitter.com/didikempotid |
Terlepas dari karya beliau yang tidak lagi perlu diragukan kualitasnya, saya merasa ada kedekatan baru pada beliau via twitter. Tadinya nama Didi Kempot yah sekedar legend dari beda dunia. Namun bisa jadi twitter disini menjembatani kalangan muda untuk mulai mengenal dunia perkoplokan melalui lagu serta nilai-nilai per"Didi Kempot"an. Bagaimana Didi Kempot bukan lagi sekedar legend asing dari dunia lain namun merambah kepada ala-ala nilai-nilai itu sendiri hingga timbulnya barisan para #sadbois dan #sadgirls dimana dari lagu Didi Kempot patah hati bisa dirayakan dan ditertawakan. Bapak Patah Hati Nasional dan sederet predikat lainnya seperti "Lord of Broken Heart", bukan sebuah predikat sederhana yang timbul begitu saja tapi dari kejujurannya yang indah pada setiap lirik dan suara khasnya serta musik patah hati yang bisa bikin goyang kepala.
Koplo lewat Didi Kempot, Via Vallen, Nella Kharisma merupakan ibarat anggur merah orangtua yang dahulu dicerca karena murah dan khas anak jalanan yang tidak punya banyak dana untuk mabuk eh tapi malah hari ini dielu-elukan anak muda kelas menengah dan bahkan berhasil penetrasi kesegala kelas (diam-diam saya tunggu intisari membuat trobosan yang sama). Bagi penikmat baru, mari sama-sama kita menjilat ludah kita sendiri secara khidmat.
Akhir kata saya hanya cuma bisa goyang takjub dan menikmati guilty pleasure bernama Koplo.

Comments
Post a Comment