Pada Layar Kaca

Jenuh pada layar, berlayar pada ruang-ruang tak bernyawa.

Menyembah dogma, tanpa musyawara.
Semua bersuara secara diam-diam dalam ruang-ruang fana, lewat kode-kode acak tak terbaca hingga menjadi sebuah pola pada ruang maya.

Hidupnya tampak begitu berwarna, hidupnya tampak begitu bahagia.
Kita lupa itu semua hanya didunia bernama maya.
Sebatas imaji semata, satu sudut untuk dibagi tanpa mengetahui cerita dibelakangnya.

Kita dijejalkan pada kenyamanan diri yang tak berarti.
Data tak berarti informasi.
Informasi tak berarti hal yang harus dibagi.

Semua sibuk dengan diri sendiri, mencari atensi.

Bagaimana hari ini kabarmu ?
Bagaimana wajahmu ?
Bagaimana ekspresimu?
Bagaimana perasaanmu ?
Bagaimana kesehatanmu ?
Bagaimana dengan profesimu ?
Bagaimana dengan jiwamu ?
Bagaimana dengan tubuhmu ?
Bagaimana dengan kucingmu ?
Bagaimana dengan pasanganmu ?
Bagaimana dengan bangku usangmu ?
Bagaimana temperatur tubuhmu ?
Bagaimana suaramu ?
Bagaimana dengan sentuhanmu ?
Bagaimana dengan ..

Sampai disitu.
Tak ada pertanyaan lagi yang dapat diajukan.
Terlalu banyak tanya kau akan dikira manusia yang mau tahu dari seharusnya.

Kita semua terkoneksi dan terputus dalam satu waktu.
Pertanyaan menjadi semacam bumbu belaka yang harus terlihat ala kadarnya.

Tak perlu repot bertanya, semua sudah tersuguh dan terpampang bak nyata.
Tak perlu bertanya, check saja layar mayanya.
Tak perlu memeluknya, hanya perlu menatapnya saja dan sesekali kirimkan saja bentuk hati padanya atau sekedar ikon api-api.

Lalu jika ada yang berduka bak kita bertanggung jawab harus turut merasakannya.

Jika ada yang tersiksa maka tak patut untuk menelaahnya apa ia korban atau pelakunya.

Garis-garis koneksi semakin kabur.
Bahasa tak lagi menjadi wicara.

Hhhhh... sudahlah begini adanya.
Sembari aku menatap layar kaca, saat jempolku lebih berarti daripada tatap mataku.

Comments

Popular Posts