Agar Peluh Tak Menjajakan Diri

Sial! Aku tidak dapat menulis kata-kata indah pagi ini.
Aku masih ingin bermimpi namun mentari memperkosaku untuk berhenti.

Peluh menjajakan diri tanpa pamrih.
Mengapa manusia harus bangun pagi, alih-alih hanya untuk memperbudak diri ?

Pun tak tepat diperbudak, kita hanya manusia yang menagih rezeki dan sudah kontrak mati.

Suka rela dan tak bisa sesuka hati.

Disana adzan berkumandang fana, toak-toak menderukan seruan yang sama.

Kita fakir rezeki yang diam-diam suka menyombongkan diri. Atas nama All... ahhh.. munafik, berdoa padahal hanya ingin melapangkan rezeki agar peluh tak banyak terlalu menjajakan diri.

Secukup-cukupnya tak akan pernah cukup. Masih juga menagih janji tanpa mau berusaha lebih.

Saat semuanya merasa kurang, maka teriakan didada membara, menyalahkan rezim pemerintah yang fatamorgana.

Berteriak pada Tuhan dan menyalahkan segalanya.

Ia serukan suara-suara lantang genderang perang, padahal semua bermuara pada kebodohan dan perkara kecukupan.

Tidak Tuhan , tidak pemerintah.
Diam-diam dikutuk pada level nista yang sama.

Manusia dengan perkara bangun paginya, serta harapan agar tak ada peluh yang menetes dan segalanya ingin beres.

Brengsek.

Comments

Popular Posts