Dosa dan doa
Melukis pesan atas nama Tuhan yang menyelamatkan jiwa yang tersesat.
Bangsatnya diri bisa begitu congkak dan terjebak pada kemunafikan.
Saat diri masih begitu hina, menistakan diri tanpa henti dan meminta ampun setelahnya.
Manusia yang bukan tanpa dosa, selalu menghamba pada Tuhan yang lekat di nadinya.
Menyadari belum tentu bisa menjalani.
Menjadi permisif terhadap kemunafikan diri. Manusia.
Aku ingat seseorang berkata “apa kita harus benar-bernar bersih barulah kita pantas berTuhan?”
Aku kira begitu, tapi tidak, manusia selalu dan seterusnya berperang melawan nafsunya.
Manusia tetaplah manusia, terlahir suci, namun tak terelakan dari dosa yang berlimpah pada perjalanannya.
Meminta ampun dan berdosa kembali.
Berjanji pada diri tidak akan lagi menjerumuskan diri, namun ketakutan bukan pilihan untuk tunduk dan tidak memeluk diri yang buruk.
Biarkan aku menjadi manusia yang berdosa dan berdoa diwaktu bersamaan.
Tuhan dan aku, bukan kawan, tapi relasi kita yang tak akan bisa terbantahkan saat aku adalah mahkluk yang diciptakannya.
Memeluk iblis sekaligus bertunduk pada keyakinan yang tak perlu dipertanyakan lagi.
Manusia, aku hanyalah manusia.
Bukan malaikat.
Hanya butuh pengampunan dan pengasihan yang terus menerus sembari berbenah diri. Tak menjadikan diri suci, namun mengakui kemanusiaannya.
Dasp
02/01/2019

Comments
Post a Comment