Perjalanan masuk kedalam diri part. 3
Jalan setapak tanpa ruang untuk dipijak,
Ajak aku untuk menanjak, genggam erat tanganku agar aku tidak terusan menolak dan akhirnya kalah telak,
Menelik lika liku yang kian pelik,
Menarik rongga rongga dada yang kian tercekik,
Siapa yang mengikik dibalik pekikan hati,
Rongrongan jiwa yang hampir mati,
Itu berita saat hari sedang mendung, jiwa serasa terkurung, dan kepala serasa murung.
Tak ada jalan keluar.
Mata sengaja dipejamkan karena urung menelaah diri dan menyelam keberagaman cahaya dibalik kekelaman jiwa.
Bicara pada hati, dan merenungkan apa yang telah terjadi. Menakutkan namun membahagiakan dibab terakhirnya.
Tuhan mboten sare, begitu katanya.
Benar adanya jika Tuhan telah mati, karena jiwa-jiwa yang sepi menghamba saat hati sedang merugi.
Tuhan dipanggil saat pintu tertutup, sesungguhnya kekuatan diri ada dibalik pintu-pintu diri bila hati memaksa untuk membukanya.
Tuhan tak mati bagi ia yang mau menghamba dengan doa minta dikuatkan dalam senang maupun susah. Tak seinci jauh Tuhan dari jantungmu, maka janganlah kau takut kehilangannya. Yakinlah dengan sadar, bukan sekedar doktrin murahan tanpa hati dan logika namun kekuasaan manusia yang sengaja memperkosa masuk.
Tuhan tidak sedangkal manusia, dan Tuham menciptkan keberagaman bukan sekedar alasan Ia sedang bahagia saat menciptakan semesta raya.
Maka tidak ada lagi hari murung, jika lelah hati dan pikiran beranikan berdialog bukan memberi sekat.
Tuhan tidak pernah mati saat aku sadar diri dan terus berkomunikasi serta tidak menutup diri dari keniscayaan cahaya.
28 Sept 2018
DASP

Comments
Post a Comment