Rumah Bernokhta Drama

Rumah bernokhta drama,
Mungkin kamu sering melihat air mata berurai dari matanya, menyaksikan dadanya berguncang karena kesulitan bernafas, sesak.

Tapi dia juga tidak beranjak.

Dihatimu yang paling dalam kamu tau bahwasanya ia tersiksa.

Apakah dia korban ? Belum tentu.
Mungkin dia hanya tidak sadar bahwa dirinya yang sedang mengorbankan hati, waktu, pikiran, serta tubuhnya untuk keadaan yang ia biarkan bergulir tanpa dapat ia rubah.

Kita sering nyaman dengan keadaan yang bahkan tidak kita sukai, kita sering membuat seolah-olah kita tidak memiliki pilihan.

Aku tidak bisa menyalahkannya, tidak bisa juga menyuruhnya keluar dari rumah nyaman yang menyiksanya. Aku mungkin hanya bisa memberikan cahaya kecil dililin-lilin kecil yang banyak agar kelak ia tertarik untuk keluar dan menyalakan lilin-lilin kecil itu sendiri, setiap hari tanpa bantuan aku yang harus menyalakannya.

Aku pernah ada dirumah itu, aku pernah ada dirumah yang aku benci, dengan dinding kaca rapuh yang hanya bisa mencerminkan keburukanku, atap bercat hitam, ruang gelap tak berpintu, hanya jendela dengan tanaman kering kerontang yang tidak menggairahkan untuk dibuka.
Namun terelakan aku seolah-olah tidak bisa beranjak dari sana, seolah-olah aku tidak punya pilihan selain menyalahkan diriku sendiri dan berharap Tuhan yang akan menyelamatkan aku pada akhirnya.

Tuhan pada akhirnya menyelamatkanku dari rumah drama yang aku ciptakan entah tanpa sadar atau tidak. Tak kunjungnya aku dapat berhenti bersyukur atas apa yang Ia lakukan padaku.

Bagimu yang berperang dengan waktu, berduka karena cinta, jangan putus asa, buatlah pintumu, nyalakan lilin-lilin kecilmu, mainkan bidak caturmu.
Kamu tidak perlu menjadi pemenang untuk bahagia, kamu hanya perlu memeluk dirimu erat, berdamai dengan waktu, berdamai dengan hatimu, berdamai dengan pikiranmu, berdamai dengan Tuhanmu.

Beranikan melangkah.

7/8/2018
DASP

Comments

Popular Posts