Lara kali ini jangan menyerah
Lara merana, Lara akan binasa,
Lara akan menjadi sengsara,
Atau Lara akan baik-baik saja karena ini hanya drama sementara,
Lara membatin, katanya dalam hati, maafkan aku dunia bila mencintai berarti menuntut,
Lalu Lara bertanya dalam hatinya, Mencintai butuh memantaskan diri, haruskah?
Untuk dicintai saja perlu kepantasan untuk mendapat yang terbaik,
Sedih rasanya bila terlahir dan terperangkap pada sel dan gen yang kurang unggul dan tumbuh pada tragedi, kesnicayaan chaos yang tidak bisa ditepis,
Membawa ketakutan, keraguan, kesedihan, drama, luka,
Maka yang bersalah adalah diri Lara yang tidak dapat menuntaskan dan memantaskan diri untuk dicinta,
Begitukah?
Lara merana terperangkap dan enggan melakangah,
Atau hanya terlalu keras untuk tidak mau merubah dirinya,
Suatu hari Lara keluar dari dirinya,
Dirinya yang lara, dilihatnya dari kejauhan, dirinya tanpa dirinya,
Seonggok daging yang terlalu impulsif bercita-cita berkelana keliling dunia, bertapa di gua-gua, terjun dari tebing tertinggi, menjadi bebas, tubuh itu pernah kehilangan ambisinya, hingga sekarang mengandalkan keberuntungan dari Sang Pencipta dari doa-doa malam ibunya,
Tuhan pernah dia rengkuh dan dia tinggalkan, tubuh itu sudah lupa caranya percaya pada yang nyata, tubuh itu sudah lupa pada semangat masa kecilnya, tubuh itu berdosa dan nista terhadap dirinya,
Lara bertanya pada tubuh itu,
Kamu tubuh Lara, mengapa bisa begini ketinggalan, segini menyedihkan, hilang cahayamu, mata mu sudah lagi tidak tersirat harapan, kenapa hatimu?
Kenapa kamu buat lubang dan titik hitam dihatimu?
Lalu tubuh itu bercerita, hati dan otaknya sering seteru, katanya hatinya sebenarnya ringkih dan penuh ketakutan juga keraguan, yang buat adalah kenyataan,
Pikirannya pernah memutuskan untuk membuat komando keras pada otaknya untuk berhenti merasa dan mencari cara untuk bertahan saat kenyataan pernah merobeknya,
Bukannya tidak ada luka yang tertoreh kala lelaki yang pertama kali dihidupnya bukan lelaki yang bisa memberi kehangatan, hangatnya lelaki itu buat kenistaan untuk main kiri dan kanan,
Benar laki-laki itu bertanggung jawab pada hidupnya namun tidak dengan hatinya yang remuk,
Pada Tuhan tubuhnya menjerit,
Tuhan mengapa baru hari ini kau sadarkan semuanya setelah berlalu? Setelah umur ini tidak lagi waktunya memberontak?
Lara ternyata selama ini memendam amarah pada lelaki itu dan perempuan yang ia cintai tanpa boleh memilih,
Lara dibendung dominasi cinta tanpa batas kadang zero toleransi,
Lara dijegal karena cerita kehidupan yang saling merantai,
Lara sadar akan amarahnya,
Hari ini Lara mungkin memaafkan masa lalunya dan segala hal buruk dan memori yang pahit yang ia pernah rasakan,
Lara, akan kah kamu berubah?
Lara, akan kah kamu berhenti disini dan tidak sekali lagi mati berdiri ?
Lara, tubuhmu minta kamu sayang, bathinmu minta kamu sapa, dan otakmu minta kamu isi dengan kebaikan,
Lara hari ini baik, tapi Lara sendiri menyadari esok bisa kembali lagi kepada Lara yang nestapa ?
Sekali Lara, pulanglah dan menjadi manusia seutuhnya bukan untuk cinta lelaki ataupun tuntutan kehidupan,
Lara jadilah cinta yang mencinta Tuhan dan Rasulnya,
Lara jangan lagi buat dirimu merana,
Berdamailah, damai dan teruslah melangkah, jangan lagi menyerah,
Bukan masalah memantaskan diri hanya kembalilah hidup dengan sanu bari yang terisi dengan kasih putih antara yang diciptakan dengan Penciptanya, maka Lara kamu akan ganti nama menjadi kebaikan untuk semesta.
DASP
28/05/2017

Comments
Post a Comment