Seperti ceritaku soal mencintaimu,

Mencintai itu tidak mudah,
Karena ada keinginan yang kuat dan menggebu,
ada ekspektasi yang membutakan, ada rindu yang menggundah,

Mencintai itu ibarat permen karet yang manis diawal namun sepa dibelakangannya,

Seperti ceritaku soal mencintaimu,

Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu,

Berulang kali aku katakan,
AKU MENCINTAIMU!,
Namun tiada gubrismu,
hanya gumaman hampa yang terdengar, seperti reflek belaka kata-katanya terucap hampa mengembalikan ucapan aku yang mendamba hadirnya,
Manusia buta pun akan tau mana yang berkata cinta karena jiwa, mana yang basa-basi belaka,

Ini soal hati, ini soal jiwa, kataku dalam diam,

Apa mungkin aku mencinta sendirian?
Apa mungkin cinta aku beda dengannya ?
Apa mungkin cinta dihatinya seperti es batu yang menyegarkan diawal lalu mencair dan menguap tanpa jejak dikit demi sedikit menyisakan kelu dingin di hati?

Soalnya begini,
Tidak lagi aku dengar intonasi menenangkan dari suaramu, suara marajukmu,
Tidak lagi aku menemukan sorot mata bagai telaga yang menghilangkan dahaga,
Tidak lagi aku merasakan keinginanmu untuk bersamaku,
Tidak lagi kamu mencari jejakku yang menantimu,
Tidak lagi aku menemukan kita bertegur sapa dan bercengkrama mesra karena hati yang meminta,
Karena kini hanya aku sendirian yang menyapa sepi darimu,

Mungkin aku terlampau lupa, bahwa cinta itu berteman dengan waktu, berkawan dengan jenuh, dan cinta bisa habis dimakan oleh logika dan perhitungan,
Tapi cinta bukan matematika,
Cinta itu harusnya mengandung makna dan mengisi jiwa,

Dan cinta seharusnya saling mencintai, bukan saat ini aku bagai fakir yang meminta kamu mencintai aku dengan layak,

DASP
9/3/2017

Comments

Popular Posts