Lanang Sejati
Lanang namanya, sejak kecil dikidung dengan doa lirih kelak dia menjadi anak lanang sejati,
Bangga diri hidup ditengah keluarga yang menyayangi, mengasihi, hingga lanang lupa rasanya menjadi mandiri,
Kelak Lanang menjadi dewasa,
Hari demi hari Lanang lewati makin menipis puja puji datang dari yang memberi kidung lirih,
Kindung diganti dengan runtukan rasa miris karena Lanang tidak lagi bisa menjadi apa yang diingini, menjadi Lanang sejati,
Lanang terlalu disayangi, hingga telat ia menyadari sudah waktunya Lanang mencari jati diri,
Jangankan mencari, melangkah jauh dari rumah sedikit Lanang sudah diwanti-wanti, "jangan pulang malam", "diluar bahaya", "jangan pilih perempuan itu", "ini yang baik untukmu", "jangan lewat situ", "jangan jauh-jauh", "durhaka kamu lanang jika tidak sekali kamu dengarkan aku!", "tidak akan selamat jalanmu!", "jangan coba ini jangan coba itu",
Maka lanang tidak melangkah tidak juga berani memberontak karena Lanang takut merasakan neraka dan tidak selamat jalannya,
Maka Lanang diam ditempat,
Lanang yang malang, kidungan rintih kelak tidak akan menjadi kenyataan suatu hari Lanang menjadi sejati,
Tapi tiap hari dicaci,
Hanya suatu hari terik Lanang sendiri berbisik, "sudah ini waktunya aku bangkit",
Maka Lanang bangun pagi, dikecup pipi ibunya, Lanang berkata "Bu, sudah waktunya Lanang menjadi sejati"
Lalu ibunya hanya mengerenyit lalu mencibir, "Nang, sudah aku kubur jaug jauh kidung rintih itu"
Lanang tidak menggubrisnya, tekad Lanang sudah bulat,
Diambilnya tali tambang bekas 17an, diikatkannya kepohon rindang depan rumahnya,
Siang itu sepi, hanya kicau burung menemani dan angin panas mengelus,
Tekad Lanang sudah bulat, hari ini Lanang menjadi sejati, pemberontakan untuk pertama dan terakhirnya,
Angin.. panas..
Terdengar teriakan melengking,
Ibu keluar rumah, hanya bisa diam lemas melihat anak Lanangnya menjadi sejati dan mati,
26.01.2017
DASP
Bangga diri hidup ditengah keluarga yang menyayangi, mengasihi, hingga lanang lupa rasanya menjadi mandiri,
Kelak Lanang menjadi dewasa,
Hari demi hari Lanang lewati makin menipis puja puji datang dari yang memberi kidung lirih,
Kindung diganti dengan runtukan rasa miris karena Lanang tidak lagi bisa menjadi apa yang diingini, menjadi Lanang sejati,
Lanang terlalu disayangi, hingga telat ia menyadari sudah waktunya Lanang mencari jati diri,
Jangankan mencari, melangkah jauh dari rumah sedikit Lanang sudah diwanti-wanti, "jangan pulang malam", "diluar bahaya", "jangan pilih perempuan itu", "ini yang baik untukmu", "jangan lewat situ", "jangan jauh-jauh", "durhaka kamu lanang jika tidak sekali kamu dengarkan aku!", "tidak akan selamat jalanmu!", "jangan coba ini jangan coba itu",
Maka lanang tidak melangkah tidak juga berani memberontak karena Lanang takut merasakan neraka dan tidak selamat jalannya,
Maka Lanang diam ditempat,
Lanang yang malang, kidungan rintih kelak tidak akan menjadi kenyataan suatu hari Lanang menjadi sejati,
Tapi tiap hari dicaci,
Hanya suatu hari terik Lanang sendiri berbisik, "sudah ini waktunya aku bangkit",
Maka Lanang bangun pagi, dikecup pipi ibunya, Lanang berkata "Bu, sudah waktunya Lanang menjadi sejati"
Lalu ibunya hanya mengerenyit lalu mencibir, "Nang, sudah aku kubur jaug jauh kidung rintih itu"
Lanang tidak menggubrisnya, tekad Lanang sudah bulat,
Diambilnya tali tambang bekas 17an, diikatkannya kepohon rindang depan rumahnya,
Siang itu sepi, hanya kicau burung menemani dan angin panas mengelus,
Tekad Lanang sudah bulat, hari ini Lanang menjadi sejati, pemberontakan untuk pertama dan terakhirnya,
Angin.. panas..
Terdengar teriakan melengking,
Ibu keluar rumah, hanya bisa diam lemas melihat anak Lanangnya menjadi sejati dan mati,
26.01.2017
DASP

Comments
Post a Comment