Manusia pembayar manusia
Tarik nafas dalam-dalam...
Presepsi presepsi...
Logika manusia yang terpaketkan hingga lupa nurani nya...
Bisa jadi saya salah.... saya juga tidak bilang salah dengan tindak tanduk yang hanya berdasarkan oleh naluri kedudukan, takhta dan rasa hormat..
Setiap manusia butuh di hormati saya percaya..
Tapi ini meresahkan diri saya... mungkin saya yang lemah dan tidak mengerti hak.. atau saya yang bodoh..
Ini mengenai manusia-manusia yang memilih untuk bekerja menjadi tenaga kerja rumah tangga..
Saya belum mengerti dititik mana dan dibatas mana manusia boleh menuntut manusia lain mengikuti kehendaknya hanya karena mereka membayar dan mempekerjakan mereka..
Saya selalu percaya.. uang tidak dapat membeli pribadi siapapun.. uang tidak dapat membeli induvidualitas manusia... apa lagi hati manusia..
Saya memang belun pernah bekerja ataupun menjadi juragan yang membayar anak buahnya.. tapi saya kenal yang namanya penghargaan individu.. penghargaan proses yang tidak pernah sempurna..
Ada waktunya manusia hanyalah manusia.. bukan seorang pekerja disetiap tindak tanduk kehidupannya...
Setiap manusia memiliki proses individual nya siapapun mereka... dari bos besar hingga babu maupun pelacur...
Mungkin saya tidak bisa menjadi bos nantinya.. karena saya terlalu memikirkan latar belakang tindak tanduk manusia.. bukan hanya berdasarkan keegoisan saya untuk dilayani ataupun dihormati..
Memanusiakan manusia memang manis dan mudah diucapkan... tapi percayalah... manusia-manusia yang saya kenal pun yang katanya berpendidikan dan memiliki budi pekerti sering kali lupa bagaimana memanusiakan manusia lain yang dibayarnya untuk menjadi pekerja..
kapitalisme kecil yang klise... berbudakan yang terselubung... malu lah kita yang tak bisa berdiri diatas kaki sendiri.
Bisa jadi manusia yang kita bayar memiliki alam pikiran yang berbeda karena kita lahir dari rahim yang berbeda..
saya lebih senang bila ada jembatan untuk berbicara... yang manusia berpendidikan lebih baik mencari cara memberi pemahamannya bukan justru memakinya atau menggunjingkannya dibelakang...
penghormatan... proses latar belakang dengan apa yang sebenarnya terjadi... bukan berarti kita mengalah ataupun kalah.. tapi bukankah lebih indah memutuskan jalan yang lebih berakal budi karena kita yang lebih paham mengenai itu..
Ini merajuk kepada zaman yang terus berjalan... perbedaan alam pikiran... loyalitas manusia yang dibayar berbeda dengan yang lalu... mereka manusia setengah utuh yang telah tersentuh buaian liberalitas pemikiran dari drama-drama di teve... teknologi-teknologi genit yng membawa pemikiran mereka ke arah yang lebih mudah dan instan... sinetron ditivi yang Mengajarkan mereka untuk bertujuan menjadi kaya bukan sekedar mencari esensi hidup yang berkecukupan..
Jadi wajarlah kita tidak lagi dapat mencetak robot dalam bentuk manusia..

Comments
Post a Comment